Menyiapkan SDM unggul untuk Indonesia maju di Era Revolusi Industri 4.0


Jika anda menginginkan satu tahun kemakmuran tanamlah benih. Jika anda menginginkan sepuluh tahun kemakmuran tumbuhkanlah pohon. Jika anda menginginkan seratus tahun kemakmuran maka kembangkanlah manusia. (Pribahasa) 


2 minggu terakhir ini anak saya yang tengah duduk di bangku sekolah dasar, telah rampung melaksanakan ujian semester ganjilnya. Tapi di beberapa sekolah lain ujian semester belum usai. Anak-anak masih berkutat dengan soal demi soal ujian yang disajikan di atas lembaran-lembaran kertas putih.

Momen ujian kerap menjadi momok menakutkan bagi anak dan orang tua, ntahlah dari mana ketakutan itu muncul. Angka selalu jadi kambing hitam ketidakstabilan emosi orang tua setiap kali masa ujian tiba. Padahal angka tak salah apa-apa.

Tapi sudah terlanjur terbangun dalam mindset orang tua bahwa kesuksesan belajar seorang anak di bangku sekolah itu ditentukan dari nilai demi nilai, angka demi angka yang tertera di rapor sekolah.

Bahkan anak yang masih duduk di awal-awal sekolah dasar yang sejatinya mereka masih  sibuk memenuhi kepalanya dengan bermainpun tak luput dari tekanan ujian dan nilai rapor. Kognisi dianggap begitu penting tapi faktanya bukan segalanya. Kebahagiaan dan kemerdekaan seorang anak dalam belajar seolah dikesampingkan demi Rangking semata.

Sebagai Ibu, saya bersyukur, memasukkan anak saya ke sekolah yang punya visi misi yang mendekati visi misi keluarga yang saya dan suami saya terapkan - Sekolah berbasis karakter yang tidak melulu menjejali muatan-muatan kognisi yang membebani siswa. Bahkan ujian disikapi biasa saja, karena Guru di sekolah selalu meyakinkan orang tua bahwa semua anak hebat, mereka pasti bisa. Apalagi sekolah ini juga tidak menerapkan sistim rangking, jadi orang tua, tidak membiasakan diri melihat kelebihan dan potensi anak dari nilai-nilai rapor saja.

Tapi tak semua orang tua bisa memilih hal yang sama seperti saya atau orang tua lainnya bukan? Problematika dunia pendidikan seolah tak pernah surut, padahal di tangan sistim pendidikan yang di kelola negara, harusnya membuat orang tua bisa bernafas lega.

Menilik kemajuan suatu bangsa maka tak lepas dari sistim pendidikan yang membangun sumber daya manusianya. Pendidikan menjadi potongan kue paling besar yang sangat diperhatikan. Bukankah bila ingin menciptakan seratus tahun kemakmuran anak bangsa maka kembangkanlah manusianya?, begitu kira-kira kata pepatah.

Pernyataan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan - Nadiem Makarim dalam sambutannya di hari Guru Nasional 2019 beberapa waktu yang lalu, seolah mewakili suara hati dan keresahan banyak orang tua dan guru di seluruh penjuru Negeri akan sistim pendidikan selama ini. Teks pidato Pak Menteri ini kemudian viral di sosial media dan banyak menuai pujian berbagai pihak. Ini seperti angin segar bagi perubahan pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik.





Hari ini, sungguh tak terelakkan dan tak bisa dihindari, kita dan dunia memasuki sebuah gerbang baru yaitu revolusi industri 4.0. Semua mata tertuju pada apa dan bagaimana mempersiapkan segala elemen bangsa untuk menghadapi tantangan global dari perubahan ini.

Sudah menjadi kesejatian, kamajuan dunia diwarnai dari perubahan demi perubahan yang terjadi yang kemudian berdampak pada banyak aspek kehidupan. Revolusi Industri digadang-gadang sebagai era baru perubahan masif dan cepat yang membawa dunia pada perubahan di segala lini kehidupan - pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi yang berdampak pula pada perubahan tatanan ekonomi, politik, budaya bahkan militer di seluruh dunia.

Berbicara revolusi industri 4.0 maka kita tak bisa melepaskannya dari sejarah yang mendahuluinya. Sebab tak akan ada revolusi industri 4.0 tanpa revolusi industri 1.0, 2.0 dan 3,0 yang menjadi dasar pijakannya.






Revolusi industri 1.0 dimulai dengan ditemukannya Mesin Uap oleh James Watt pada abad ke-18. Penemuan ini penting sekali karena sebelumnya manusia hanya mengandalkan tenaga otot, tenaga air dan tenaga angin untuk menggerakkan apapun dalam kegiatan industri. Revolusi industri 1.0 mengubah masyarakat dunia dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri.


Penemuan mesin uap 
oleh James Watt
Source : www.zenius.net






Revolusi industri 2.0 pada abad ke- 19  sampai abad ke-20, ditandai dengan era baru penemuan listrik dan conveyor belt (ban berjalan) yang memungkinkan manusia memproduksi barang dalam jumlah besar dan memangkas waktu produksi menjadi lebih pendek.


Perusahaan Mobil Ford menjadi salah satu pionir dalam produksi masal mobil model T. Produksi mobil dalam jumlah besar ini menyebabkan harga menjadi lebih murah sehingga lebih terjangkau masyarakat.


Penemuan conveyer belt 
www.zenius.net


Perubahan di era revolusi industri 2.0 ini juga membawa perubahan pada dunia kemiliteran. Ribuan tank, pesawat dan senjata-senjata tercipta dari pabrik-pabrik yang menggunakan lini produksi masal.


Produksi massal pesawat terbang
Http://binus.ac.id



Setelah mengganti tenaga otot dengan uap, lalu mengganti produksi paralel dengan serial maka di era revolusi industri 3.0 yang berlangsung sekitar tahun 1970 -an, terjadi perubahan besar dimana tenaga-tenaga manusia sudah mulai diganti perannya oleh komputer dan robot yang bisa berfikir dan bergerak secara otomatis.

Era informasi pun tiba dan berkembang pesat sekali. Kemajuan teknologi komputer melesat seiring perputaran zaman. Penemuan semi konduktor, disusul transistor, lalu Integrated Chip (IC) membuat ukuran komputer semakin kecil sehingga bisa dipasang pada mesin-mesin produksi. Kini komputer menggantikan banyak manusia sebagai operator dan pengendali lini produksi.

Sekali lagi, revolusi mengubah masyarakat negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat cenderung berubah dari mengandalkan sektor manufaktur menjadi mengandalkan sektor jasa seperti bank, studio film, dan lain-lain sebagai motor penggerak laju ekonomi mereka.

Komputer pertamia di dunia
www.sidetek.blogspot.com 





Konsep revolusi industri 4.0 pertama sekali digunakan di publik dalam pameran industri Hannover Masse di kota Hannover, Jerman tahun 2011 lalu. Revolusi industri 4.0 yang berpijak pada penemuan sistim komputerisasi pada era sebelumnya, membuat terobosan baru dengan penemuan Internet. Penemuan ini begitu banyak melakukan terobosan melalui rekayasa intelegensia dan internet for thing sebagai penggerak dan penghubung manusia dan mesin.


Semua komputer kini tersambung ke jaringan internet. Komputer semakin kecil bahkan menjadi semakin kecil sebesar kepalan tangan manusia dalam wujud smartphone. Hampir semua orang kini tersambung dengan jaringan raksasa internet begitu pula mesin-mesin produksi. Penemuan Big data, Artificial Intelligence mengubah banyak hal dalam tatanan kehidupan masyarakat dunia. Banyak pekerjaan yang hilang dan muncul jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak terfikirkan oleh manusia.



Berbicara tentang revolusi industri 4.0 yang tengah terjadi kini, tak terlepas dari pelakunya, para pemantik sejarahnya. Konon generasi milenial adalah generasi yang paling mewakili sebagai pelaku perubahan besar yang kini terjadi di dunia bahkan Indonesia.

Menurut wikipedia, milenials adalah kelompok demografi setelah generasi X. Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahirannya.


Dalam sebuah forum bedah buku yang diadakan belum lama ini di Medan, Yuswohady penulis buku 'Millenials kill everything' mendiskripsikan milenial sebagai kaum 'pembunuh berdarah dingin'. Mereka membunuh apapun secara cepat.

Pembunuhan ini terjadi karena nilai-nilai dan preferensi milinial yang telah berubah drastis dan perubahan itu menjadikan berbagai produk, layanan, teknologi, musik, olahraga bahkan beberapa pola tingkah laku manusia menjadi tidak relevan lagi dan perlahan punah.

Di tahun 2030 diperkirakan ada sekitar 50 produk, layanan dan jasa bahkan tingkah laku manusia yang hilang dari muka bumi karena millenials disruption ini. Pemain lama hilang berganti dengan pemain baru yang dengan cepat merubah keadaan dan mencengangkan banyak pihak.

Olah raga golf, sepatu high heels, toko-toko retail, departemen store yang bahkan telah lama berdiri, biro perjalanan, satu persatu ambruk diterjang bisnis berbasis online dan data. Milenial kini tak lagi senang berbelanja barang (goods) melainkan lebih menkonsumsi pengalaman (experiences/leisure).


50 list produk, industri, jasa 
yang diprediksi hilang di tahun 2030


Fenomena Gojek, Tokopedia, Traveloka dan lain-lain, menandakan era start up, era unicorn, era revolusi industri 4.0 happening now in Indonesia...zaman telah berubah bro, begitu kira-kira kata anak milenial.




Pada sebuah pernyataannya, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI - Nadiem Makarim mengatakan bahwa kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi. Bahwa kita memasuki era dimana kelulusan tidak menjamin kesiapan bekerja dan berkarya. Kita memasuki era, dimana akreditas tidak menjamin mutu.

Senada dengan pernyataan Pak Menteri di atas, Salva Yurivan Saragih-Trainer muda, dalam ssalah satu vlognya menggambarkan fenomena yang terjadi saat ini persis seperti fenomena VUCA pada perang kabut (fog war) yang dihadapi militer di tahun 90-an. Dimana situasi medan lawan sama sekali tidak terbaca, serasa berjalan dalam kebutaan. Begitu pulalah gambaran yang terjadi hari ini., di era revolusi industri 4.0 ini.

VUCA adalah singkatan dari :
Volatality : kondisi dimana perubahan sangat cepat sekali terjadi.
Uncertainity : kondisi ketidakpastian / tidak ada jaminan.
Complexity : banyak sekalai hal-hal baru yang mempengaruhi kesuksesan hari-hari ini yang tidak terfikirkan pada masa lalu.
Ambiguity : kondisi yang membingungkan.


Berdasarkan paparan tentang apa yang tengah dihadapi, maka mari bersama-sama kita bergerak menyongsong kemajuan Indonesia di masa depan. Indonesia yang maju adalah sebuah resultan upaya dan ikhtiar anak bangsa di segala lini kehidupan. Optimis adalah satu-satunya tiket meraih kejayaan Indonesia di masa depan. Lalu pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mempersiapkan kemajuan Indonesia di era industri 4.0 ini?

Bonus demografi penduduk Indonesia yang mencapai 240 jiwa, sumber daya alam yang masih melimpah serta laju pembangunan infra struktur yang digenjot di 5 tahun pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo, memang menjadi Modal dasar yang patut disyukuri. Namun pembangunan manusia menjadi satu keniscayaan bagi suatu bangsa, karena sejatinya kemajuan suatu negara tidak saja dilihat dari capaian fisik saja tetapi dari sudut manusianya.

Dalam sidang paripurna mengenai ketersediaan anggaran dan pagu indikatif tahun 2020, pada 23 April 2019 silam, di ruang Garuda Istana Kepresidenan di Bogor, Presiden Jokowi menyatakan bahwa prioritas utama kita ke depan adalah pembangunan Sumber Daya Manusia yang terkonsolidasi dengan baik, didukung anggaran yang tepat sasaran sehingga terjadi peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui peta jalan yang jelas, terstrukur dan hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat.

Urgensi pembangunan Sumber Daya Manusia menjadi faktor kunci dalam memenangkan persaingan global di masa depan yang membawa konsekuensi semakin ketatnya persaingan di tengah ketidakpastian. Namun pembangunan Sumber Daya Manusia menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia bila mencermati  data yang dikeluarkan oleh Bank Dunia dimana pada tahun 2018 disebutkan bahwa kualitas SDM Indonesia berada di peringkat ke-87 dari 157 negara.



Sementara itu di tahun 2019 menurut IMD ( Institute for Development ) memaparkan bahwa peringkat daya saing SDM Indonesia berada di rangking 32. Peringkat ini masih tertinggal dari 2 negara tetangga kita yaitu Singapura dan Malaysia yang berada di peringkat 1 dan 22 se-Asia Pasifik.




Oleh karena itu pilihan strategi pembangunan dengan fokus utama pembangunan SDM yang unggul sangat tepat untuk menjawab tantangan bagi Indonesia ke depan.

Menilik peningkatan SDM di Indonesia, sekali lagi salah satu instrumen maha pentingnya adalah melalui pendidikan. Itu sebabnya, banyak orang tua yang mengarahkan pandangan pada sosok pengisi  posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang dilantik pada suksesi beberapa waktu yang lalu.

Penunjukan Nadiem Makarim menarik perhatian banyak kalangan akan keterwakilan kaum milenial yang menguasai teknologi dan data.  Bagaimanapun milenial lah kini sebagai pelaku-pelaku baru perubahan di era revolusi industri 4.0. Dunia pendidikan pun bersiap-siap menyambut segala konsekuensi era ini.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul 'Memuliakan Kehidupan', Mochtar Buchory menyimpulkan ada tiga tujuan dari pendidikan. Pertama, agar peserta didik bisa  menghidupi diri sendiri, kedua agar perserta didik bisa bermanfaat lebih dengan menghidupi orang lain. Ketiga, agar peserta didik bisa memuliakan kehidupan.

Lantas apakah yang kita titipkan pada sistim pendidikan kita untuk pembangunan Sumber Daya Manusia ini?

Menurut Erie Sudewo dalam bukunya 'Best Practice Character Building menuju Indonesia lebih baik',  kualitas manusia ditentukan oleh 2K, yakni Kompetensi dan Karakter. Pembangunan Sumber Manusia unggul hendaknya menyentuh 2 aspek ini. Inilah narasi besar yang dibawa dalam sistim pendidikan dari mulai pendidikan pra sekolah, sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Kompetensi yang berasal dari kata competence (kecakapan) merupakan kemampuan dalam mengemban tugas, menyelesaikan pekerjaan atau menangani persoalan.  Kemampuan artinya 'peningkatan diri' yang masing-masing orang berbeda-beda sesuai fitrah alamiahnya. Di dalamnya ada kapasitas yaitu daya tampung (volume potensi seseorang) dan kapabilitas yang dimaknai sebagai kemampuan mengolah dan mengelola kapasitas.

Mari kita simak bagaimana kompetensi harus dirancang dalam wujud kurikulum pendidikan.

Menurut Aoun (2017), untuk mendapatkan SDM yang kompetitif dalam industri 4.0, maka kurikulum pendidikan harus dirancang agar outputnya mampu menguasai literasi baru yaitu :



1. Literasi data, yaitu kemampuan membaca, menganalisis dan memanfaatkan informasi big data dalam dunia digital.




2. Literasi teknologi yaitu memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi coding, Artificial Intelligences dan engineering principles.




3. Literasi manusia, humanities, komunikasi dan desain.


Namun....kualitas manusia bukan hanya dinilai dari kecerdasan dan keahliannya semata, atau kepakaran, keterampilan dan profesionalitasnya saja. Kompetensi memang menjadi tangga menuju kesuksesan, tapi karakterlah yang menentukan apakah tangga itu bersandar pada tempat yang benar atau tidak.

Bukankah kita tidak ingin melihat SDM Indonesia yang luar biasa unggul dan kompeten beberapa puluh tahun mendatang tapi tak mewujudkan kemakmuran bagi rakyat Indonesia ?. Kompetensi yang dimiliki justru hanya dipakai untuk memperkaya diri sendiri, kelompok, mengambil kekayaan negara (korupsi) dan penyalahgunaan jabatan.

Maka 2 K (kompetensi dan karakter) ini adalah elemen penting dalam pembentukan sumber daya manusia.

Kompetensi memang menjadi tangga menuju kesuksesasan, tapi karakter menentukan apakah tangga itu bersandar pada tempat yang benar atau tidak

Karakter merupakan perilaku baik dalam menjalankan peran dan fungsinya sesuai amanah dan tanggung jawab. Disinilah titik utama mengapa istilah karakter memiliki kekuatan, mengandung daya dan mempunyai kharisma. Hingga ketika  berbicara karakter maka konteksnya selalu mengarah pada sesuatu yang agung.

Berbeda dengan kompetensi yang bisa ditingkatkan dalam jangka waktu tertentu dan terukur, menanamkan karakter bukan seperti perlombaan sprint, melainkan maraton. Butuh waktu yang lama dan pendekatan yang dalam.

Dalam bukunya Best Practice Character Building menuju Indonesia lebih baik,  Arie Sudewo membagi Character yang harus ditata, dirancang dan diarahkan bahkan dari mulai awal kehidupan seorang manusia menjadi 3 bagian besar yaitu :

KARAKTER DASAR
Terdiri atas sifat :
1. Tidak egois
2. Jujur
3. Disiplin


Ketiganya sejatinya adalah karakter dasar yang ditanamkan sejak kecil bahkan sejak anak terlahir ke dunia. Itu sebabnya kami orang tua menaruh harapan pada dunia pendidikan karena pendidikan berbasis karakter ini memang harus dijalankan seiring sejalan seirama antara sekolah dan orang tua, demi mengawal ketiga nilai-nilai baik ini terus terjaga hingga anak dewasa.


Karakter tidak egois menumbuhkan kepedulian sosial, pada manusia dan alam. Jika menjadi pemimpin maka akan menjadi pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karakter tidak egois juga menjadi nafas kolaborasi. Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok lain. Kemampuan ini sangat dibutuhkan di era ini.

Karakter jujur menumbuhkan dedikasi untuk melawan segala ketidakadilan. Benih-benih korupsi sejatinya lahir dari karakter jujur yang tidak termanivestasi dengan baik dalam diri seorang manusia. Jujur adalah salah satu ciri kepemimpinan langit, ciri kepemimpinan Para Nabi yang notabene Pemimpin yang diutus Tuhan kepada semesta.

Karakter disiplin melahirkan tanggung jawab. Konon membangun karakter ini tak cukup 1 dekade tapi sepanjang usia. Disiplin adalah salah satu karakter yang memudahkan kehidupan. Budaya antri, budaya tertib, budaya mengerjakan pekerjaan tepat waktu, budaya efisien, lahir dari karakter disiplin yang sejatinya ditanamkan sejak dini.

Ketiga karakter ini, bila dimiliki seseorang, maka akan cukup membuat seorang anak manusia dikatakan baik. 3 karakter ini adalah modal besar untuk meraih tujuan kehidupan. Namun untuk menjadi manusia unggul, 3 karakter itu saja belum cukup. Arie Sudewo menambah karakter berikutnya sebagai syarat menjadi manusia unggul.

KARAKTER UNGGUL
1. Ikhlas
2. Sabar
3. Syukur
4. Tanggung jawab
5. Berkorban
6. Memperbaiki diri
7. Sungguh-sungguh

Ketujuh sifat ini hendaklah diisntall sedari kecil kedalam fikiran bawah sadar anak, guna mempersiapkan karakter unggul yang sangat berguna di masa depannya.

Lantas untuk mempersiapkan seorang pemimpin yang siap menghadapi tantangan di era yang tidak pasti di masa depan, maka ada 9 sifat lagi yang harus ditambahkan.

Karakter pemimpin
1. Adil
2. Arif bijaksana
3. Ksatria
4. Tawadhu'
5. Sederhana
6. Visioner
7. Solutif
8. Komunikatif
9. Inspiratif.

Formula 3, 7, 9 berupa 3 karakter dasar, 7 karakter unggul, dan 9 karakter pemimpin ini bila diterapkan dan bersanding dengan peningkatan kompetensi maka akan membentuk sumber daya manusia Indonesia yang paripurna yang siap menghadapi tantangan zaman apapun.

Oleh karena itu pembangunan SDM unggul baik kompetensi dan karakternya sungguh menjadi kekuatan besar menuju Indonesia maju di era revolusi industri 4.0

UNGGUL SDMNYA MAJU INDONESIANYA
























11 komentar

  1. Mba Ning, entah bagaimana kok sekarang ini, anak yang ujian, emak yang deg-degan. mas menteri katanya mau menghapus un. Semoga saja implementasinya sesuai dengan harapan kota para orangtua. Semoga juga bonus demografi kita ke depannya semakin unggul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya cha..hehehe...karena ortu masih berfikir nilai. Tapi nggak melulu salah ortu sih. Sistim juga mengkondisikan begitu.

      Baru diralat ca, UN bukan dihapus tapi diganti dengan assesmen ya

      Hapus
  2. Saya juga tertarik sekali kak, ingin memasukkan anak ke sekolah yg condong ke pendidikan karakter bukan sekolah yg pada umumya lebih ke akademis saja, karena anak sekarang bukan sekedar kompetisinya saja yg dikejar tapi bagaimana mengembangkan kemampuan dan minat mereka thd masa depan nanti agar lebih mandiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener id...selamat hunting hunting sekolah yak. Karena milih sekolah anak ternyata 11 12 acem nilih jofoh 🤣🤭

      Hapus
  3. Memang pernah baca, kalau revolusi 4.0 ini yang menentukan adalah teknologi informasi. Jadi, yang menguasai industri nantinya adalah soal siapa yang paling banyak punya data. Dan itu mulai terbukti sekarang, media sosial semacam facebook/instagram serta marketplace2 online yang begitu maju. Insight full banget kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener dek...tapi apalah arti manusia nya hebat2 an pengasaan data masa depan tapi minim karakter? Takutnya tujuan pembangunan nasional untuk menciptakan kemakmuran ke sebanyak2 nya org tak tercapai. Alih alih yang sukses makin sukses yang susah makin nambah n terpuruk.

      Makasih udah membaca 🙏

      Hapus
  4. Mantap artikelnya lengkap kakak. Setuju dengan formula 3,7,9 nya. Indonesia butuh SDM unggul yang punya semua ini agar mampu bersaing di era industri 4.0 ini

    BalasHapus
  5. Lagi belajar nulis artikel dyah, belajar dari dirimu juga...suka tak intip2 tulisannya.

    Iyup...kompetensi + karakter 3-7-9

    BalasHapus
  6. Mudah2an pendidikan karakter yg dibina dr keluarga membuat kita menjadi leader yg dibutuhkan dr SDM unggul indonesia

    BalasHapus
  7. Aduh keren x 9 karakter pemimpin utk SDM unggul Indonesia. Noted, insyaallah anak² kita, anak² seluruh Indonesia bs mencapai sifat² unggul tsb. Semangat!!!

    BalasHapus
  8. semoga dalam kepemimpinana pak nadiem makarim PNS itu syaratnya gk lihat akreditasi kampus. awak mau jadi PNS gk bisa karena akreditasi jurusan C..seimji

    BalasHapus