Fathering



Membahas ayah, selalu menarik ya...sebab seperti yang sering diulang-ulang Bu Elly Risman-Psikolog dan Pakar Parenting Nasional,  hari ini tengah terjadi fenomena  fatherless country atau negeri yang kehilangan ayah. Berayah tapi seperti tiada, bukan tiada secara fisik tapi secara peran keayahannya (fathering).

Fathering adalah peran yang dimainkan seseorang berkaitan dengan anak, bagian dari sistem keluarga, komunitas dan budaya. ( Lynn dalam Frogman 2002 )

Nah...tepat sekali di hari Pahlawan Nasional yang jatuh tanggal 10 Nopember kemarin, Salimah mengadakan Seminar Nasional bertajuk :  ' Ayahku Pahlawanku'.

Seminar ini menghadirkan 2 pembicara nasional yaitu Ayah Irwan Rinaldy dan Bunda Wina Risman - yang tak lain adalah putri Bu Elly Risman yang sudah lama kita kenal sebagai seorang pembicara parenting Nasional.






Kegiatan ini sebagai rangkaian dari Salimah Expo yang puncak acaranya akan digelar tanggal 23 - 24 Nopember 2019 yang akan datang.

Tiket dibandrol Rp. 155.000,- dan saya rasa warth it sekali mengingat acara ini digelar di Hotel Grandika di bilangan Jl. Dr. Mansyur Medan, serta memberikan fasilitas
lunch dan coffee break, sertifikat dan tentu saja amunisi ilmu yang luar biasa kepada seluruh peserta.

Saya sendiri merasa antusias sekali mengingat sudah sejak lama Bunda Wina ini menjadi wishlist saya dan kawan-kawan untuk menghadirkan beliau ke Medan. Begitu juga dengan Ayah Irwan yang tak kalah kerennya, selama ini bertemu beliau di kelas-kelas seminar parenting online saja.




Acara ini dibuka sangat grande dan haru, dengan persembahan lagu nasyid lawas  yang disuarakan nasyidah-nasyidah cilik. Sukses membuat mata peserta berkaca-kaca.

Ada ratusan peserta yang hadir dalam acara ini, tapi kehadiran ayah yang  memang dijadikan tema di acara seminar ini, benar-benar sesuatu yang harus diapresiasi, karena kali ini hampir 50 % ruang seminar dipenuhi ayah-ayah menyamai partisipasi bunda. Masya Allah...salut banget dengan kerja panitia.




Pukul 9 lewat MC kemudian memperkenalkan moderator yang akan mengawal jalannya seminar. Beliau adalah sosok ibu luar biasa yang sudah tak asing lagi bagi saya. Pembicara parenting juga, yang dalam beberapa kesempatan bersua beliau di kelas-kelas parenting sebagai pembicara maupun terkadang sebagai pembelajar.

Beliau adalah Bu Sri Prafanti ST, MT.  Beliau kemudian membuka acara dengan pantun-pantun deli yang segar,  langsung membuat senyum para hadirin terkembang lebar...Masya Allah wa tabarakallah.

Melihat beliau, terus terang pastilah yang mengenalnya akan juga terkenang dengan sosok ustadz kharismatik yang telah pergi menghadap ilahi beberapa waktu yang lalu. Aura haru, masih melingkupi kami tatkala kata-kata beliau meluncur membuka dialog bersama 2 pembicara pada hari itu. Bahkan di beberapa part beliau pun menitikkan air mata, karena tentulah forum ini akan membahas peran seorang laki-laki sebagai ayah.




Inilah yang ditunggu-tunggu, Bu Panti mempersilahkan Ayah Irwan Rinaldy. Beliau kemudian tampil menyapa peserta dengan salam hangat dan segar membuat seisi ruang seminar enjoy dan penuh tawa.  

Ayah Irwan kita tau selama ini sangat concern dalam mengedukasi para ayah dalam pengasuhan. Jadi memang tepat lah panitia menghadirkan beliau ke tengah-tengah ayah bunda yang hadir kemarin. 

Oh iya, bila teman-teman masih ingat dengan film Sang Murobbi, maka ayah Irwan ini adalah sang pemeran tokoh utama dalam film tersebut. Beliau memerankan dengan sangat kharismatik tokoh ustadz Rahmad Abdullah - Sang Murobbi. Jadi selain sebagai pakar 'keayahan' beliau juga seorang aktor film. Masya Allah...






Sesi pertama berjalan cepat, rasanya waktu tak terasa sudah berjalan 30 menit saja.  Jeweran Ayah Irwan buat para ayah agaknya membuat emak berada di atas angin. 

Salah satunya ketika beliau mengatakan : 
' Bunda...sepulang dari sini tolong periksa suami-suami bunda apakah laki-laki tulen atau nggak? Maksudnya  secara 'peran keayahannya'....kalimat sentilan ini kontan membuat seisi ruangan petcah dengan tawa.


Ayah Irwan di sesi pertama ini kembali mengingatkan fase-fase krusial pengasuhan anak yaitu :

0 - 7 tahun pertama

7 tahun pertama adalah masa masa paling penting membangun fondasi dasar keimanan dan karakter seorang anak. Meski di fase ini peran Ibu sebagai madrasah pertama lebih intens dibanding ayah. Tapi figur ayah, sentuhan ayah sangat dibutuhkan terutama dalam memberi kenyamanan dan support bagi Ibu dan anak. 

Di fase ini  hendaklah ayah bunda 'fight' dalam pengasuhan anak, melakukan yang terbaik, karena ini adalah peletakan roadmap yag maha penting bagi kehidupan seorang anak. Sampai-sampai ayah Irwan memberikan anekdot kalau suami istri mau berantem di masa 0-7 tahun anak, maka tolonglah ditunda dulu, berantemnya nanti saja di usia anak 8 tahun...hahaha...seisi ruangan sontak gerrrrrr....

Hal lain yang penting adalah mengisi tangki cinta seorang anak. Sehingga nanti ketika remaja atau dewasa, ketika berhadapan dengan banyaknya godaan dari SPBU-SPBU gemerlap dunia yang berusaha merayu hatinya, anak tak butuh lagi, anak tak tertarik lagi karena tangki cinta nya telah penuh diisi kehangatan dan cinta kasih bunda dan ayahnya.

Sesibuk apapun ayah bekerja mencari nafkah, maka jangan pernah menafikan tugas mengisi tangki cinta anak ini.  Sentuhlah hati dan jiwa anak. Sentuhlah jua fisiknya skin to skin. Bila luput maka itu adalah hutang pengasuhan yang harus segera dibayar. 




7 - 14 tahun ( 7 tahun kedua)

Di fase ini peran ayah mulai di depan dari ibu. Anak mulai mencari role model di lingkungan terdekatnya.

Anak perempuan butuh ayah yang selalu memuji fisiknya 4x dalam sehari. Penuhilah hati anak perempuan anda dengan pujian terhadap fisik yang disandarkan kepada Allah...

Semisal : ' masya Allah nak..wajahmu cantik bersinar ayah lihat dengan jilbab pinkmu ini nak...ya Allah...bahagianya ayah...sekarang kamu sudah rajin berhijab'.


Kelak ketika ada seorang lelaki asing yang menghujaninya dengan pujian maka dia akan mengatakan : ' aku sudah sering mendengar kata-kata yang lebih indah dari itu dari ayahku'. Maka ayah adalah cinta pertama anak perempuannya.


Ayah juga penyampai kurikulum 4 Perempuan suci dunia akhirat kepada anak perempuannya yaitu : 

1. Maryam binti Imron
Kelak anak perempuan kita akan belajar bagaimana menjadi seorang perempuan yang mengenal dirinya dan Tuhannya.
2. Khadijah binti khuwailid
Kelak anak perempuan kita akan belajar bagaimana berkorban dan berkhidmat pada suaminya.
3. Fatimah Az zahrah
Kelak iya akan belajar bagaimana menyayangi anak-anaknya
4. Asiah
Kelak anak perempuannya akan menjadi pejuang bagi lingkuangan (bi'ahnya), sekalipun tidak sesuai dengan keyakinannya.


Lalu terhadap anak laki-laki, maka ayah adalah sosok yang mentransfer value 'ke-qawwam-an' atau kepemimpinan. Ayah lah guru leadership seorang anak laki-laki. Ayah yang selalu demonstratif akan ditiru oleh anak nya, di copypaste dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Anak yang memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya memiliki kenyamanan diri (self-esteem) yang lebih tinggi dan lebih sedikit merasa depresi. - Dubowitz - 

Keterlibatan ayah dalam kehidupan anak berkorelasi positip dengan kepuasan hidup anak dan kebahagiaan. - Flouri - 

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan secara positip berkorelasi dengan kompetensi, inisiatip, kematangan sosial dan relatedness. - Stolz-


Secara garis besar maka peran inti seorang ayah di 7 tahun pertama dan kedua adalah :

1. Loving 
Mencintai diri sendiri dan pasangan.
Istri seperti travo besar yang banyak sekali menyimpan segala emosi tentang anak-anaknya. Maka cintailah makhluk ini.

Suami dan istri sejatinya adalah pakaian yang saling menutupi, melengkapi dan menyamankan. Hasan al bana mengatakan : kalau kurang cintamu pada istrimu maka yang perlu kamu lakukan adalah al fahmu (kefahaman). Maka setidaknya fahamilah sosok separuh jiwa para ayah itu.



 Kalau kurang cintamu pada istrimu maka yang kamu lakukan adalah        al fahmu (kefahaman) 



2. Coaching
Ayah adalah choach terhebat yang dipilih Allah untuk anak-anaknya. Maka jadilah coach yang terus belajar. Karena anak tak perlu ayah yang sempurna, tapi ayah yang hadir.


3. Modeling
Anak melihat How bukan what. Lebih melihat suri tauladan, dari pada muntahan kata-kata.




Di era milenial maka akan ada banyak hal yang bisa didelivery lebih baik oleh mesin pencari tercanggih abad ini. Tapi tidak dengan 2 hal ini, yaitu adab dan agama. Lalu pertanyaannya, siapakan yang mendelivery atau menyampaikan kedua hal ini kepada anak? Jawabnya adalah ayah dan bundanya.

Di ujung sesi Ayah Irwan menyampaikan pesan kepada para ayah yang sedang berikhtiar membayar dan menyempurnakan hutang-hutang pengasuhannya agar do the best, lets Allah finish it.





Nah sesi kedua tak kalah seru, kehadiran bunda Wina mengobati kekangenan saya dengan sang ibunda beliau - bunda Elly Risman.



Kisah dan pengalaman masa kecil, remaja hingga dewasa beliau bersama sang ayah, mengharu biru dan benar-benar menginspirasi. Tentang sosok ayah yang hadir di setiap fase penting Bunda Wina, lanjut dengan pengalaman scholarship sang ayah di Amerika yang tentu saja membawa banyak experience bagi keluarga Risman, hingga bagaimama sang ayah menerapkan kesederhanaan dan kemandirian pada keluarganya hingga mengantarkan sukses seperti hari ini.









Alhamdulillah 2 sesi yang banyak dagingnya, mengundang banyak sekali pertanyaan dari ayah dan bunda peserta seminar. Bu Panti sampai harus membatasi pertanyaan karena waktu telah menunjukkan pukul 16.00 wib.


Pertanyaan para ayah mendapat porsi yang lebih banyak karena memang acara ini didedikasikan untuk para ayah. Tak ketinggalan panitia di penghujung sesi ini membagi-bagikan hadiah untuk mengapresiasi partisipasi peserta seminar.
Akhirnya acara ini pun usai. Sebagian peserta telah buru-buru meninggalkan ruang seminar mengejar sholat ashar yang sudah masuk waktunya.


Acara ini tak ketinggalan disupport oleh beberapa pihak seperti Sygma Daya Insani, Izzi, jilbab Khodijah, sekolah Azzakiyah, HPAI dan sebagainya.


Sygma daya insani hadir sebagai salah satu pengisi ruang bazar, menjadi salah satu stand menarik dengan mengusung buku-buku sirah anak-anak premium. Permainan dan buku-bukunya menjadi sasaran anak-anak membaca atau sekedar memainkan tolls permainan seperti puzzle, boneka tangannya atau permainan ular tangganya.


Sygma sendiri menawarkan promo spesial pula yaitu diskon 40% untuk pembelian paket-paket buku sirahnya. Wawww...cukup menarik bukan?


Event ini juga dimanfaatkan sebagai sarana belajar parenting, dan juga sarana bersilaturahim bagi para konsultannya. Sesi poto bersama Ayah Irwan merupakan penutup yang manis hari itu.











26 komentar

  1. MasyaAllah Wa Tabarakallah....

    BalasHapus
  2. Hiks aku ketinggalan sesi pertama ayah Irwan kak, tapi masyaAllah sesi berikutnya dapat juga akhirnya dan memang Ayah Irwan kayaknya mendedikasikan dirinya untuk masuk ke ayah ayah lintas profesi mulai dari yang menengah ke bawah ya kak, masyaAllah. Lain kali aku ajak Ayah Khalil lah kalau ada event Ayah Irwan lagi haha, kali ini harus berhasil wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya...sesi pertama Ayah Irwan kayak nggak ikhlas berakhir...hehehe...iya keren ya kan...kesannya kayak cerita cerita pengalaman beliau nggk menggurui. Asik sih...next insya Allah akak pun pengen hadir bareng ayah arkan. Insya Allah

      Hapus
  3. Beruntung sekali bisa mengikuti seminar ini... Banyak hal yang bisa didapat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah bunda...semoga diberi kesehatan belajar terus tiada henti...aamiin...

      Hapus
  4. Posisi ayah itu penting sekali ya kak, tapi sayangnya banyak ayah yg kerja di luar kota pulang kerja malah enggan mau berinteraksi sama anaknya, kalau ada acara ini lagi mudah2an saya bisa datang dengan suami

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah salah satu note yang di bold...gimana memperbesar keikutsertaan ayah di kelas kelas parenting. Tapi luar biasa kemarin ayah2 nya banyak id...salut juga dengan kerja panitia. Aamiin...semoga sehat sehat kita sekeluarga ya...bisa hadir di kelas-kelas parenting bareng pasangan kita

      Hapus
  5. Makasih banyak mba Ning udah bikin resumenya.
    Aku baper karena gak dikasih ikut suami. Padahal pengen banget hadir.
    Link nya ku kirim ke suami biar baca, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 cha...hiks...semoga next dimudahkan ya...akak pun masih ada wist list acara yang pengen diikuti bareng suami. Semoga dimudahkan.

      Hapus
  6. Jazakillah khair sudah mendokumentasikan ilmu yg diperoleh dr acara Fathering ini yaa Kak Nining. Sebagai org yg ditarbiyah sosok alm. KH. Rahmat Abdullah amat sangat dinantikan ceramah dan tulisan dakwahnya. Kl gak salah ada rubrik khusus tulisan beliau di majalah aktivis Saksi, Tarbawi dan beberapa kali di Sabili. Alhamdulillah dapat ilmu jg wlwpun gak berkesempatan ikut acaranya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajazakillah fiik mb mia.iya sosok karismatik kayak belum tergantikan ya..liat filmnya aq pun mewek mbak...
      Suka juga baca tulisan2nya...

      Hapus
  7. Jika bicarain soal ayah ngak ada habis²nya kak, karena seorang ayah slalu menjadi sosok pahlawan bagi anak²nya. Semoga sehat dan semangat untuk ayah² di luar sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener. Aamiin...sehat sehat semua ayah Indonesia demi masa depan anak-anak yang lebih gemilang

      Hapus
  8. Soal mengasuh anak, sekarang nggak cuma butuh sosok ibu saja, tapi peran ayah emang besar. Ayah dituntut bukan untuk mencari nafkah saja, pergi bekerja, pulang larut malam dan langsung tidur, tapi lebih dari itu.

    Btw, saya suka istilah tangki cinta dan godaan SPBU dunia kak. Hehehe

    BalasHapus
  9. Iyes bener...tantangan zaman semakin hebat. Ayah harus didudukkan kembali di singgasananya, jadi pemimpin keluarga sekaligus pendidik, temen, coach, anak-anaknya.

    Ahh...terima kasih...itu kakak kutip dr ayah Irwan dek

    BalasHapus
  10. baru dengar istilah Fathering. betul juga ya. selama ini selalu yang diperingati itu Hari Ibu. padahal ayah juga sosok penting untuk diistimewakan ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dah menggeret ayah buat parentingan itu rada susah esmeralda...hehehe...

      Hapus
  11. Kalau masih di Medan, dah ikutan acara ini sambil ngegerat suami. Xixixi.. karena proses pengasuhan bukan cuma tugas ibu tapi juga tugas ayah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi..dimana-mana pada pengen geret suami ya kan...di Pekanbaru biasanya aktif juga tu parenting2 nya dy

      Hapus
  12. pengen kemaren ikutan, tapi apa daya papa rafa masih susah diajak ikutan kelas begini kak ning. semoga selanjutnya nnti bsa ikutan kelas parentang bareng papa nya rafa. aamiin.
    ang peran ayah sangat amat penting kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kemarin lagi ada halangan ya id...insya Allah bakalan ada tu id acara-acara kayak gini lagi. Semangat 'geret' paksu *ehh

      Hapus
  13. huaaaa nikah itu emg gak sekadar nikah ya mbak ning. tanggungjawabnya besar. :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes...nyiapinnya dr pra nikah sa...insya Allah nanti dikasi Allah yang sekufu.

      Hapus
  14. MasyaAllah, keren acaranya kak. Memang banyak sekarang keluarga yang keliatan fatherless, ayahnya ada tapi jarang di rumah dan berinteraksi dengan anak-anak. Semoga dengan adanya seminar seperti ini dapat menyadarkan para ayah akan pentingnya interaksi dengan anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya....zaman now beda sama dl ya kan. Skrg tantangan lbh war biyasa jadi mamak nggak bisa sorangan wae. Hrs dua duanya. Biar keluarga kuat, anak pun hebat. Insya Allah

      Hapus