Berdialog dengan sejarah melalui kearifan cagar budaya

Dulu waktu masih zaman berseragam putih abu-abu, mata pelajaran sejarah adalah yang paling membosankan. Kadang saya memilih menggambar abstraksi hitam putih dengan pena merk Rotring kesayangan untuk membunuh kantuk dan lelah ketika mata pelajaran itu didelivery di kelas. Sesungguhnya yang menari-nari kala itu adalah kantin sekolah. Kapanlah pelajaran ini berlalu dan saya ingin segera menegak teh manis dingin ibu kantin untuk menginput kesegaran ke dalam otak.

Saya memang selalu antusias menghafalkan sejarah, tapi itu hanya sebatas ingin mendapatkan nilai bagus saja ketika ulangan tiba. Selebihnya, saya menjadi makhluk yang tak begitu peduli dengan membaca sejarah. Satu-satunya yang saya ingat adalah sosok guru sejarah saya kala itu. Saya sayang beliau secara personality, karena beliau sosok yang ramah, baik, beliau juga guru SMP saya dan selalu memberi saya nilai memuaskan. Tapi agaknya itu tak cukup membuat saya menyukai mata pelajaran yang dibawakannya.

Setiap kali mamak mengajak jalan-jalan ke situs budaya yang berbau-bau sejarah untuk menemani saudara yang datang dari luar kota, langkah kaki ini pun berat sekali. Seperti ditimpa batako besar yang sulit digerakkan. Tak ada menariknya buat saya tempat-tempat itu, karena tak menarik akhirnya malas berkunjung dan tak peduli.

Bertahun-tahun kemudian, hampir seperempat abad, sejarah masih menjadi sesuatu yang paling malas dibaca. Apa menariknya ? Seperti tak punya sesuatu yang membuat mata tertuju ke sana, tertindih oleh rutinitas dan kesenangan baru kala itu. Saya lebih tertarik mengutak- atik keyboard komputer dan berselancar dengan MIRC dan menjelajah Yahoo.com.

Internet mulai happening di masa perkuliahan saya dulu, warnet pun menjamur di mana-mana bak cendawan di musim hujan. Pelajaran sejarah telah menjadi situs purbakala di kepala saya. Sudah ditinggalkan.

Waktupun berjalan cepat, yang saya ingat, banyak hal yang mulai berubah ketika saya tamat kuliah, menikah dan dianugerahi Allah seorang anak setelah penantian yang amat sangat panjang. Anak membuat saya jumping 180 °, dalam banyak hal termasuk hobbi dan kesenangan. Passion saya mulai menyesuaikan dengan kebutuhan masa depan anak.

Ketika mulai melek dengan pentingnya membuat kurikulum pengasuhan anak, saya mulai mencari sana-sini apa kira-kira yang dimasukkan dalam kurikulum pengasuhan anak saya di rumah. Meski sekolah punya kurikulum sendiri, tapi sebaiknya anak di rumah jangan dibiarkan kosong melompong tanpa aktivitas dan pendampingan orang tua.

Itulah mengapa kurikulum rumah itu penting menurut saya. Membuat kurikulum rumah, tak usah terlalu ribet seperti merumuskan kurikulum sekolah formal, yang sederhana saja yang kira-kira bisa menjadi pijakan untuk diwujudkan seluruh anggota keluarga di rumah.

Setelah banyak menyimak penuturan guru-guru kehidupan di kelas-kelas parenting, banyak membaca dan mencari tahu, sayapun akhirnya memutuskan memasukkan kurikulum membacakan 'sirah'  atau sejarah dalam pengasuhan anak. Di sinilah titik balik saya fall in love dengan 'sejarah' dan otomatis segala yang terkait dengannya.

Jatuh cinta memang berjuta rasanya, begitu kata Vina Panduinata...ternyata benar juga. Ketika mulai jatuh cinta dengan sejarah, sayapun mulai menularkannya pada anak saya. Mulai dari mana? Saya mulai dari buku. Saya percaya membacakan buku adalah cara hebat memasukkan value ke dalam alam fikiran bawah sadar anak.

Sejarah adalah akumulasi rekaman kehidupan manusia. Mempelajari sejarah berarti mempelajari segala bentuk puncak pengalaman dan perubahan yang dicapai manusia sepanjang abad. Sejarah yang terjadi di masa lampau menjadi pijakan membangun sejarah baru di masa depan.

Lalu apa pentingnya mengajarkan sejarah kepada anak?

Nugent dalam bukunya Creative history (1967) menjelaskan tentang hal itu. Ada 2 manfaat sejarah bagi kita yaitu :

1. How can  history help us making a living
( bagaimana sejarah itu menolong kita untuk hidup)

2. How can history help us become a better person
(Bagaimana sejarah itu dapat menjadikan kita pribadi yang lebih baik)

Menurut Robert Jones Safer (1974)
Sejarah berguna untuk :

1. Memperluas pengalaman manusia.
Belajar sejarah sama artinya dengan berdialog dengan masyarakat dan bangsa manapun di saat kapanpun. Dengan mempelajari sejarah orang mendapatkan pengalaman dalam menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan.

2. Dengan mempelajari sejarah akan memungkinkan seseorang untuk dapat memandang sesuatu secara keseluruhan.

3. Sejarah memiliki peranan penting dalam pembentukan identitas dan kepribadian bangsa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. - Ir. Soekarno-

Al-qur'an sebagai kitab suci umat Islam sendiri, memuat banyak sekali sejarah masa lampau sebagai bahan renungan dan pelajaran. Kisah Luqmanul Hakim - seorang ayah yang mengajarkan kebaikan kepada anaknya, adalah salah satu kisah yang diabadikan di dalam Al-qur'an.

Begitu pula tentang kisah tenggelamnya Firaun di dalam lautan bersama seluruh pasukan-pasukannya. Hegemoni mempertuhankan diri dan kekuasaan runtuh dipertontonkan zaman. Al-qur'an menyampaikan pesan kuat, agar manusia berhati-hati terhadap kesombongan dan hukuman Tuhan. Sebab history can repeats it self. Sejarah bisa berulang kembali. Hal yang terjadi di masa lampau suatu saat akan berulang kembali dengan variasi yang berbeda tapi esensinya sama.

Maka tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum mereka, lalu kami tenggelamkan mereka semua (di laut), dan kami jadikan mereka pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian. -Al-qur'an-

Dimensi sejarah seperti yang difahami orang-orang Romawi tercermin dalam adagium historia vitae magistra yang artinya sejarah adalah guru kehidupan. Sedangkan bagi bangsa Cina  meyakini sejarah adalah cermin kehidupan. Itu sebabnya Raja di setiap dinasti berkewajiban menuliskan sejarah raja dan dinasti yang digantikannya.

Bagi saya kini, mengajarkan sejarah kepada anak, sama artinya mengisi kekosongan identitas sejatinya. Dengan mengetahui sejarah, anak akan mengetahui kesejatian identitas dirinya sebagai bagian dari entitas sebuah bangsa. Banyak sekali hal menarik sesungguhnya yang disuguhkan oleh sejarah kepada generasi muda penerus bangsa ini.

Beberapa buku-buku tentang sejarah manusia pertama di muka bumi yaitu Nabi Adam As, tentang nabi-nabi yang lain, tentang manusia yang dijadikan sebagai tokoh nomer 1 yang berpengaruh di dunia yaitu Nabi Muhammad saw, tentang tempat-tempat bersejarah di dunia, tentang ilmuan-ilmuan yang mengukir sejarah di dunia saya koleksi dan bacakan sesering mungkin kepada anak. Sayapun memburu buku Maps Poster book karya Aleksandra Mizielinska dan Daniel Mizielinski yang tersohor itu untu dipelajari bersama anak. Tak disangka, mengunyah buku sejarah ini ternyata mengasikkan.

Setelah membacakan buku-buku, sayapun kemudian mulai memburu tempat-tempat yang memungkinkan kami berdialog lebih nyata dengan sejarah. Maka, sedari kecil saya sudah hobbi mengajak anak saya berwisata ke situs-situs cagar budaya di kota tempat tinggal saya atau pun kota lain yang kami kunjungi.

Tak ingin mengulang seperti saya yang tak suka sejarah ketika duduk di bangku sekolah dulu, saya kini memilih mengajarkan sejarah dengan cara yang penuh 'rasa' kepada anak. Saya percaya cinta datang tanpa dipaksa begitu pula mencintai sejarah.

Anak yang mindsetnya sudah terbuka sedari kecil untuk belajar dan mencintai sejarah akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang akan mencintai segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah termasuk cagar budaya yang merupakan produk sejarah.
Ia akan merasa memiliki dan menjaga. Begitu kira-kira cara berfikir saya. Jadi proses edukasi untuk menjaga, merawat dan melestarikan cagar budaya sejatinya di bangun di rumah sedari kecil. Maka ini akan efektif.

Bila saja semua orang tua mengajarkan kecintaan terhadap sejarah sejak dini maka akan muncul masyarakat yang menghargai sejarah dan cagar budayanya. Kita akan menyaksikan peradaban modern yang tetap memeluk kearifan situs-situs sejarah bangsanya. Kerja pemerintah untuk mengedukasi akan sangat diringankan bila kesadaran bersama ini terbangun.

Bicara tentang cagar budaya, apasih cagar budaya itu?

Menurut Wikipedia :
Cagar budaya adalah daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan.

Menurut UU no. 11 tahun 2010 :
Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Pada tahun 2019 ada sekitar 1492 cagar budaya yang bergerak maupun tidak yang sudah terdaftar dan teridentifikasi. Masjid Raya Al manshun, Istana Maimun, dan rumah Tjong A fie di Medan adalah salah satunya.

Info dan pengetahuan penting tentang situs cagar budaya di Indonesia silahkan klik Di sini.




Beberapa hari yang lalu kami kembali mengunjungi Istana Maimun yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Luasnya sekitar 2.777 m2 dengan 30 ruangan yang terdapat di dalamnya.

Istana ini dibangun oleh Sultan ke 9 yakni Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, pada tahun 1888 dan diresmikan 3 tahun kemudian tepatnya 18 Mei 1891. Istana yang menghadap ke timur ini, begitu megah dan unik dengan perpaduan arsitekturnya yang menunjukkan keberagaman kehidupan masyarakat Medan, yaitu Melayu, Islam, Eropa, dan India.





Budaya Eropa nampak dari Ornamen lampu, lemari, meja, kursi, jendela hingga pintu dorong. Pintu tersebut bergaya arsitektur spanyol yang berpadu dengan gaya arsitektur Belanda pada bentuknya yang lebar dan tinggi. Hal yang sama juga dijumpai pada jendelanya.










Karakteristik arsitektur Islam nampak pada lengkungan-lengkungan bagian atap. Lenkungan yang nampak seperti perahu terbalik ini seperti lengkungan pada arsitektur Persia atau bangunan Timur Tengah lainnya.




Di hari libur Istana Maimun ini banyak sekali dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Khusus wisatawan mancanegara dipandu oleh tourguide yang menjelaskan dengan detail sejarah Istana Maimun yang melegenda ini.

Tiket untuk masuk ke area Istana Maimun ini hanya Rp. 10.000,- saja per orang. Kami hanya membayar tiket masuk Rp. 20.000,- . Murah bukan?



Selain untuk sekedar melihat-lihat, tempat ini juga digunakan sebagai sarana belajar. Beberapa mahasiswi dari universitas yang saya kenal, agaknya sedang melakukan wawancara kepada pengunjung untuk melengkapi tugas perkuliahannya.

Saya sendiri menjadikan kunjungan kali ini sekalian menekankan pentingnya pemahaman mengidentifikasi benda-benda. Saya membuat tugas agar anak mengidentifikasi benda apa saja yang iya temukan di sini, seru ya, jadi cagar budaya itu sebagai sarana belajar banyak hal.



Di dalam Istana juga tersedia outlet yang menyediakan souvenir khas Medan dan pakaian adat melayu yang bisa disewa oleh pengunjung dengan harga RP. 20.000,- saja. Pengunjung pun gembira ber swa foto menggunakan pakaian tradisional ini.







Beberapa inventaris kerajaan di sini tidak boleh diduduki ya, di sana tertulis tegas aturannya. Ini untuk menjaga agar tidak rusak mengingat usia perabot-perabot ini  sudah tua sekali, jadi rawan rusak bila tidak dijaga dan dirawat. Nah penting sekali memiliki kesadaran bersama menjaga supaya barang-barang dan situs peninggalan sejarah ini tetap lestari.


Melalui wisata ke cagar budaya ini juga menjadi kesempatan bagi saya mengenalkan pakaian adat Melayu dan budaya suku Melayu. Juga kerajaan Deli yang dulu pernah berkuasa sebelum Indonesia merdeka. Nah menariknya di sana terpajang juga foto Sultan deli terakhir loh, beliau sekarang berusia 21 tahun dan sedang menyelesaikan studinya di Universitas Diponegoro Malang.


Semoga, cagar budaya yang ada di kota Medan khususnya dan Indonesia umumnya tetap terawat dan terjaga ya...itu harapan saya sebagai orang tua yang menjadikan situs-situs bersejarah ini tak hanya sebagai alternatif jalan-jalan semata tapi menjadikannya sebagai media belajar dan berdialog dengan sejarah.

Yuk tulis pengalaman dan opini kamu tentang cagar budaya melalui kompetisi blog yang diadakan oleh Kemendikbud x IIDN









19 komentar

  1. masyaallah.. detail banget kak.. bagaikan lagi berada di istana maimun awak. hehehe..smoga istana maimun tetap terjaga kelestariannya. aamii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semoga ya kan...sedih rasanya peninggalan berharga dr sejarah kalau sampai tak terawat. Nggak ada nanti tempat untuk bawa anak-anak belajar sejarah kotanya.

      Hapus
  2. Saya sebenarnya suka sejarah.Tapi karena yang mengajar kurang asik dulu pas saya sekolah, jadi saya pun gak tertarik lagi😲🙁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu lah problemonya. Kenapa ya guru sejarah itu so cool and terkesan kaku membosankan. Jadi murid-murid pada males. Coba belajarnya sambil jenjalan ke situs sejarah yang ada ya kan pasti lebih asik

      Hapus
  3. Indeed mba Ning, pelajaran sejarah dulu amat membosankan. and I always sleep at the time.

    Teringat bapak pernah bilang " sejarah harus dipelajari, nanti kalo tidak suka bisa berubah sewaktu-waktu"

    BalasHapus
  4. Banget ya kan...sampek ingat gurunya siapa gayanya gimana, saking boringnya lah sama mapel nya. Hahaha...

    BalasHapus
  5. Sebagai salah satu cagar budaya, istana maimun ini harus betul2 dijaga. Saya rasa para pengunjung istana maimun atau cagar budaya lainnya harus menjaga kebersihan dan keotentikannya. Kalau dikelola dengan modern lagi, istana maimun saya rasa bisa jadi makin ramai

    BalasHapus
  6. Harus belajar banyak dari kak nining nih perkara istiqomah mendelivered sejarah ke juragan.. Barakallah kak ning

    BalasHapus
  7. Saya penasaran sama mariam puntungnya.

    BalasHapus
  8. Wew, saya seumuran dong sama sultan deli yang terakhir

    BalasHapus
  9. Dapat insight saya Kak baca artikel Kak Nining nih. Sejarah itu membantu kita utk making a living dan become a better person. Karena sejarah mjd cerminan kita kedepannya utk tidak mengulang kembali kesalahan yg telah dibuat di masa lalu. Tak perlu kita yg mengalaminya sendiri, tinggal memetik pelajaran dr pengalaman orang lain. Tfs, Sista :*

    BalasHapus
  10. Kalau aku kurang suka pelajaran sejarah soalnya banyak bener yang harus dihafal. Tapi kalau mengunjungi tempat bersejarah itu baru suka. Nah, cerita2nya jadi lebih nyantol dibanding saat belajar di sekolah dlu.

    BalasHapus
  11. Aku pas pelajaran sejarah ntah apa kok mata ini selalu mengantuk, apakah karena penyampaiannya yang lebih teoritis, tapi kalau macam nih, langsung ke tekape lebih asik kali ya

    BalasHapus
  12. Lihat Istana Maimun ini, jadi teringat kalau pertama kali kesana tahun 2010. Dan sampai saat ini, sudah tiga kali Ke Istana Maimun. Ini istana harus dijaga dan dirawat karena kalo ga salah, masuk dalam lima istana di Indonesia yang masih kokoh. Keren ini mah

    BalasHapus
  13. Gila, lengkap banget ini ulasannya...

    Oh iya btw, mbak setau aku Universitas Diponegoro itu di Semarang bukan di Malang. Kalo Malang Universitas Brawijaya.

    BalasHapus
  14. Sebagai warga Medan yang bertumbuh besar di sini, aku malu banget belum pernah ke Istana Maimun kak. Lihat artikel ini jadi pengen atur jadwal main kemari.

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. Udah panas2 sama siskot kemari foto2 segala macam bentuk,, eh tak juga ditulisnya kk, ,ya beginilah istana yg pernah jd kebanggaan ini, kadang disayang kadang disesalkan knp yg ngurus tidak seserius Cagar budaya wilayah lain

    BalasHapus
  17. Klo mbaknya dulu nggak demen sejarah, saya sebaliknya. Saya penyuka pelajaran Sejarah. Dan karena Sejarahlah, salah satu latbel yang membuatku doyan traveling.

    Sejarah itu cermin kehidupan, dan sudah selayaknya kita mengenangnya, melihat masa lampau di kehidupan masa kini, persis seperti yang mbak lihat di Istana Maimun. Sudah lama sekali saya nggak berkunjung ke situs budaya ini. Semoga kelak bisa ke sini lagi. :)

    BalasHapus