Ibu adalah magnet literasi keluarga





Sering kali mendengar curhatan ibu-ibu customer kami yang budiman tentang buku  yang mereka beli belum  termaksimalkan potensinya. Padahal untuk menghadirkan buku-buku premium kami bukanlah sesuatu yang tanpa usaha. Kadang ada yang menanti berbulan-bulan untuk menunggu giliran arisan tiba, karena untuk menghadirkan buku-buku premium kami di rumah ada beberapa cara pembayaran yang dilakukan bisa cash bisa cicilan dan arisan. Tentusaja arisan the most fav bagi emak-emak karena bisa mendapatkan buku dengan harga cash tapi bisa dicicil hingga 10 bulan.

Ada juga  yang bersabar mengcansel keinginan beli ini beli itu demi cicilan bukunya setiap bulan, ada yang penuh perjuangan mendapatkan izin suami, bahkan ada yang membuat celengan buku memanfaatkan sisa uang belanja sehari-hari, dikumpulin kira-kira 8 rb an per hari, luar biasa bukan?... Tapi ternyata so far buku-buku itu  non working well at all...hiks...

Ini salah satu best seller book kami : Ensiklopedi Muhammad Teladanku.



Buku mengenalkan sosok pemimpin dijamin masuk syurga kepada anak. 4 Khalifah dalam Islam


Buku sirah 64 Sahabat Teladan Utama.
Highly recomended untuk mengenalkan tokoh sahabat Rasulullah kepada anak-anak.


Buku pengenalan Sirah Nabi untuk balita.
Sarat dengan nilai-nilai keteladanan Nabi untuk pembentukan karakter balita.




Kadang buku-buku itu cuma jadi bahan pajangan penghias lemari, dan dibiarkan berdebu. Kadang tidak sempat dibacakan, anak tidak tertarik membacanya, bahkan ada yang setelah sekian lama, buku-buku itu ternyata masih terbungkus plastic wrap dengan rapihnya...

Sebagai SLC (Sygma Learning Consultant), rasanya gimanaaa gitu ya. Pedih dan menampar sih sebenarnya.
Itu artinya transfer ide, proses edukasi kepada cust tidak terdelivery dengan baik. Rapor merah lah buat saya sebagai SLC.

Sebaliknya, kebahagiaan terbesar yang priceless banget buat saya adalah ketika mendapat kiriman testimoni tentang banyak hal positip semisal anaknya jadi pelahap buku, monster buku, emaknya pun jadi ikut suka baca buku, bahkan nenek dan atok juga ikut membaca dengan antusias sirah-sirah Nabi. Yang intinya ada semacam aktivitas literasi di rumah bersama buku-buku  kami...

Ahhhh mewaaaah ini mah...nggk terupiahkan senengnya. Menambah energi kami menjadi berlipat-lipat dalam menggiatkan gerakan literasi keluarga melalui sirah.






Tadi malam saya membaca tulisan di akun @Rabithole.id, dan rasanya mewakili sekali dengan apa yang ingin saya sampaikan dalam versi saya sebagai seorang SLC.

Bahwa sekeren apapun sebuah buku, sehebat apapun sebuah buku, seviral apapun testimoninya,  sepremium apapun pricenya, secanggih apapun fitur-fiturnya, sedahsyat apapun pendekatan sciences dan  researchnya....

That is just a book.....

Buku hanyalah buku mak... benda mati yang tak bermakna apa-apa bila hanya dihadirkan di rumah,  tanpa dibuka, dibaca dan dinikmati proses jatuh cinta mengunyah isinya.

Buku hanyalah benda tak bergerak dan tak berdampak yang akan berdebu, usang dan dimakan rayap pada waktunya bila tidak  diberi MAGNIT supaya anak-anak interest membuka, membaca dan mempelajari banyak hal indah tentang pengetahuan dan penciptaan yang ada di dalamnya.

And The magnet is you moms...

Bukan orang lain, bahkan bukan buku itu sendiri...

Dear mak...ibu adalah magnit apapun bagi anaknya. Bahkan Ibu adalah buku berjalan...Ibu adalah buku kehidupan.

Suara Ibu, tangan ibu, gesture ibu, mimik wajah ibu adalah mega magnet terbesar seorang anak untuk jatuh cinta pertama kali dengan buku...tak perlu skill hebat buat membacakan buku, karena suara ibu pasti akan lebih indah dr suara pengkisah terbaik manapun bagi anaknya.

Buku hanyalah wasilah, sahabat sejati seorang Ibu untuk memberi tahu banyak hal kepada anak di luar kapasitas pengetahuannya supaya lebih luas dan tidak keliru dalam menyampaikan sesuatu. Buku hanyalah tools...fasilitas, teman setia seorang ibu berekspresi di hadapan anak-anaknya.

Jadi apalah arti buku bila tanpa dirimu wahai ibu ?
Siapakah yang membacakan bait dan mengenalkan suri teladan kepada mereka kalau bukan Ibu?

Ingatlah perjuangan menghadirkan buku-buku itu di rumah. Ada yang bahkan menyisihkan uang belanja untuk arisan 5 bulan atau 10 bulan seperti yang saya ceritakan di atas. Bahkan ada yang mengumpulkan buku-buku itu hingga seharga sepetak tanah, masya Allah....

Akankah upaya itu sia-sia?
Suatu saat apa yang dibeli tapi tidak dimanfaatkan pun ada hisabnya bukan?

Padahal anak kita seperti spons yang siap menerima informasi apapun yang kita bacakan kepadanya. Apapun yang dibacakan seorang ibu pasti diingat anak-anaknya.

Yuk lah pandangi rak buku kita di rumah maak. Izinkan Buku Muhammad Teladanku, Rasulullah Teladan Utama, 24 Nabi dan Rasul, 64 Sahabat Teladan Utama, Buku pintar Iman Islam dan Balita berakhlak mulia, menempati rak paling bawah yang gampang diakses anak-anak. Turunkan mak..biar tangan-tangan mungil anak bisa menjangkaunya...

Buatlah buku-buku itu istimewa di hati kita biar energinya sampek ke anak dan anakpun akan mengistimewakan buku dan aktivitas membacanya.

Izinkan anak-anak bermain, membaca dan bereksplorasi dengan buku-buku nya BERSAMAMU....pasti segalanya akan menjadi indah.

Tak perlu lama...
Asalkan hati ini hadir sebenar-benar hadir membersamai mereka membuka halaman demi halaman buku itu setiap hari...15 menit sudah cukup. Sebentar kan mak... Mana lebih lama dari stalking kita di sosial media?

Kalau konsisten, Insya Allah bermakna dan memberi arah...

Masih banyak waktu insya Allah untuk memulai hal baik ini maak...terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Bila lelah sendiri, berkomunitaslah. Carilah sesama penggiat literasi keluarga. Yang bisa mengingatkan kurikulum membacakan sirah ini ketika kita lupa...Biar langkah berat itu semakin ringan adanya.

Yuuk bareng-bareng...
demi generasi melek sirah berakhlak dan berkarakter seindah Rasulullah, sahabat dan keluarganya...



#slcstory
#gerakanliterasikeluarga
#onedayonebook
#ayobacakanbuku
#onedayonesirah

38 komentar

  1. Keren mba Ning. Saya jadi teringat tentang anak ke 3 saya. Yang selalu dan selalu minta diceritakan cerita yang sama. Padahal cerita itu karangan saya agar perilaku "tidak mendengar" tidak lagi jadi kebiasaan.

    Saya sampai bosan menceritakan Fabel yang sama. Ternyata saya sadari, dia bukan mau mendengar ceritanya. Dia cuma mau saya. Mau agar saya fokus di dia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pas masih kecil Arkan juga punya buku yang sampek lecek hafal titik koma karena bolak balik dibaca. Padahal sebenarnya dia seneng momen ngelendotannya pas baca buku sama emaknya itu ya kan....

      Hapus
  2. Dari judulnya aja udah keren, Kaka.... Ibu sebagai magnet literasi keluarga. Ahhh syukaaaa... Bener beud, kl ibunya suka baca insyaallah anak²nya gak pake disuruh² lgsg ambil bk n baca. Gak bs tdr kl gak baca.

    Btw, buku² Muhammad Teladanku bagus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia interestnya ibuk itu ngalir ke anak ya kan...

      Muhammad teladanku highly recomeded. Keren beud...kalau mau ty2 detail bilah ke wa kk ya...eaaaakkk...masuk pak eko..heheheheh...

      Hapus
  3. Keren kak. Setidaknya kita punya perpustakaan mini di rumah ya kak. Supaya dari sejak kecik lagi anak-anak sudah diajarkan untuk suka membaca. 🙏🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya...aamiin semoga dimudahkan ya kita punua home library impian. Kalau niatbinsya Allah dimampukan...aamiin...

      Hapus
  4. Betul kak,, aku tertampar. Banyak buku di rumah yang belum dimaksimalkan ke anak2. Anak2 suka minta dibacain atau sekedar dengerin mamaknya cuap2 mendongeng karangan sendiri. Doakan supaya aku lebih semangat utk bacain buku2 itu ke anak2 ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...saling mendoakan kita ya dek...kakak pun masih up n down juga lho...alhamdulillah sering ketemu temen2 yang jadi cermin n always support. Semangat kita ya...

      Hapus
  5. betul. kita adalah magnet literasi. evy pernah nulis tentang magnet literasi ini 2 tahun lalu di blog perpus evy kak ning. moga bisa bikin nambah semangat :) bias dibaca di sini pustakahanan.com/1077/magnet-literasi/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah...keren vy...nanti kk mampir baca tulisan evy...

      Hapus
  6. Gimana caranya bujuk anak2 supaya suka baca kak?

    BalasHapus
  7. Dibacain emaknya dulu me. Sambil baca sambil becanda baca lagi becanda lagi baca lagi, trus main. Buat kgiatan yang sumbernya dr buku semisal ngecraft, percobaan sains, lama2 mereka ambil sendiri nyoba main n buat percobaan yang ada di buku sendiri. Lama lama kalau ada apa2 mereka nyari buku...

    BalasHapus
  8. Di Rumah, buku jadi kegiatan paling asyik dan pencair suasana eh kita mau ngapain lagi yaaa, baca buku aja yok, nah itu hehe tapi yah ayah juga keren kalau diminta baca buku sama anaknya kak tapi bentar aja, wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...lama lama buku dah jadi kawannya kan mak...pasti kacarian kalau nggak buka.

      Keren lah ayah dek olil...apalagi bundanya...👍

      Hapus
  9. Masya Allah. Semangat ayah-bunda.

    Literasi dimulai dari keluarga dan sejak dini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah mbak...semoga Allah mudahkan. Perjalanan masih panjang, smg istiqomah terus. Aamiin

      Hapus
  10. MasyaAllah.. TabarakAllah kk. Ini yang sedang ku perjuangkan. semenjak anak-anak sekolah waktu menbaca buku di rumah jadi berkurang. tapi setidaknya diupaya sebelum tidur aku bacain cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peluk dyah...akakpun sama sdg berjuang terus melawan ketidakkonsistenan. Semoga kita di mudahkan ya

      Hapus
  11. Masyaallah benar sekali ini kak, melalui ibu terlebih dahulu anak memperoleh pengetahuan ttg membaca, semoga rumah saya penuh dengan buku bacaan anak2 sperti punya kakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...semoga kita orang tua ini senantiasa dibimbing Allah ya

      Hapus
  12. Saya tertarik dengan tulisan ini, memang bener buku hanyalah sebuah buku dan tidak ada artinya jika tidak di baca. Dulu saya suka membeli buku karena menarik dari hasil rekomendasi pembicara terkenal namun sesampai dirumah buku tersebut tidak pernah selesai dibaca.

    dan emank peran orang tua sangat penting dalam menuntun sang anak untuk membentuk kebiasaan membaca dimana era gedget melanda.

    BalasHapus
  13. Saya juga reseller buku ini mba ning.
    Tapi saya ndak sanggup bacain buku MuTe ke anak.
    Baru satu parageaf saya dah nangis terharu mbacanya.

    Terdengar kabar bahwa akan diluncurkan epennya.
    Saya sudah menunggu2, hingga kini tiada kabar jadi apa gak itu epen diluncurkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah reseller sdi juga toh vi?
      AH iya gitulah kalau baca Mute yak...mamak keburu mewek.

      Tapi tetep semangat aja vi...
      Sekarang udah banyak yang lain vi...yang semacam ensiklopedia untuk balita pun ada baru launching kemarin. Ehh jadi promo...hehehh...

      Nah e pen lagi on progress nggk tau kapan kelarnya. Kakakpun menanti2. Masih tahap ngisi suara katanya...semoga lah segera keluar.

      Hapus
  14. Buku-bukunya emang bagus banget, dengan kita bacain ke anak kita juga jadi tambah tau siroh..dan betapa pentingnya siroh ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mamak sisil alhamdulullah sudah bergabung jadi sahabat sygma ya...insya Allah udah mulai ngerasai manfaatnya. Semoga kita diistiqomahkan kadi penebar sirah ya sil...semangat...

      Hapus
  15. monmaap ini salfok, itu bukunya ada potongannya gak kalo awak beli di kakak? hehehehehe pengen langsung mraktekkin yang kak ning tuis nih ? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sure...pastinya...marilah kita melanjutkan di jalur pribadi...ups...biar bisik bisik tetangga kita...hahahaha...kakak seneng banget ngasih info komisi yang lunayan banget buat emak2 happy...

      Hapus
  16. Kebayang susah nya jadi ibu wkwkwkwk :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebanding lah dek...dengan di bawah tapak kakinya surganya anak..masya Allah...tapi senengnya pun buanyaaaak...

      Hapus
  17. Ya banget, karna ibu lebih banyak berinteraksi dengan anak,dan s berperan urusan dalam rumah tangga, jika ibu konsisten membaca buku, pelan-pelan bisa berpengaruh sama anggota keluarga lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyess...alhamdulillah ya kita dikasih peran ini...semoga tetap semangat dan konsisten..

      Hapus
  18. Penyakit juga ya kak ning,
    Kita aja kadanh punya buku banyak yg masih tumpukan tbr (to be reading)
    Nyesak kadang itu jadi pajangan aja hiks,
    Kakak ku termasuk yang masih jarang kali bacain buku ke anak anaknya padahal udah beli hikz entah faktor waktu atau terlalu urusin bisnis onlinenya 🤧

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah..memang kudu punya niat n semangat n konsistensi juga ternyata...tapi bismillah tetap semangat aja buat emak2 sadayana...

      Hapus
  19. Bacain buku ke anak itu adalah momen paling menyenangkan. Ga butuh banyak tools. Cukup buku dan fokus kita. Anak anak happy bgt. Tp ya itu td, benerin diniatkan dan dihidupkan bukunya ya kak. Jgn hanya jd pajangan di lemarin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dek....semangka..semangat karena Allah...mudah2an dikasi jalan

      Hapus
  20. Anakku masih belum begitu suka buku 😫 tapi kalau emak nya cerita didengerin anteng ,lengah dikit buku bisa buat coret coret,masih belum bisa menghargai

    BalasHapus
  21. Ndak apa-apa ut...pilih aja jenis buku yang soft book atau pillow book atau buku hard cover yang tahan air anti robek and kl dicoret2 bisa dihapus. Kl masih bayik memang kita masih nggk terlalu fokus sama konten buku...krn pastinya si dedek bayi lbh exicting sama suara suara emaknya. Cuma kita kenalin terus aja jangan kasih kendor...hehehehe...

    BalasHapus