Ramadhan - bulan mengembalikan 'Ayah' pada singgasananya




'Daddy...
Did I ever tell you
You are my Hero



Assalamualaikum dear Moms...
Alhamdulillah sudah memasuki hari ke 4 Ramadhan ya...semoga sehat, fit dan semangat menjalankan hari-hari Ramadhan bersama keluarga.

Saya dan mungkin ayah bunda yang suka mendengar seminarnya bu Elly Risman dalam beberapa kesempatan, pasti sering mendengar beliau mengucapkan kata-kata : Indonesia sebagai 'fatherless country'. Bener?? Beliau menjelaskan penggalan kalimat kias ini bukan merujuk pada sebuah makna kehilangan ayah secara fisik, tapi secara peran dalam pengasuhan.

Jadi hari-hari ini betapa banyak rumah yang berayah tapi tak berayah, beribu tapi tak beribu. Bukan karena anak sudah menjadi yatim piatu, tapi anak diyatimpiatukan oleh kesibukan tak bertepi ayah bundanya sehingga abai pada peran pengasuhan dan pendidikan di rumah.

Ayah tidak hadir di rumah, di hati anak-anaknya. Secara fisik hadir tapi secara esensi tidak apple to apple, tidak heart to heart terlibat dalam romantika pengasuhan anak. Seolah sudah menjadi perjanjian tak tertulis, urusan anak urusan emaknya, atau disubkontrakkan kepada yang lain, sedangkan gue bagian banting tulang cari ma'isyah (nafkah), thats it. Sehingga kalau di rumah, fikiran dan perasaan ayah sah sah saja terbang bersama kerjaannya, hobinya, laptopnya, smartphonenya, no problemo...karena dia telah lelah seharian bekerja. Uhh uhh...andai ayah liat para emak yang dah kayak kintiran seharian yak...kurang lelah apa? anyway begitulah fenomenanya.

Ini menjadi persoalan mendasar banyak keluarga di Indonesia bahkan dunia. Sehingga bu Elly melanjutkan dengan statemen beliau berikutnya mengajak untuk mengembalikan para 'ayah' pada 'singgasananya'.

why???
Kenapa raja-raja dalam rumah tangga ini perlu didudukkan di tahtanya?
Karena ternyata ada peran-peran pengasuhan yang nggak bisa diambilalih emak sehebat apapun n sesuperwoman apapun seorang ibu. Dan ada lubang menganga di hati seorang anak yang itu tidak bisa diisi oleh ibu seorang diri. Tangki cinta di hati anak udah didesain Allah ada kapling-kaplingnya, ada kapling emak dan ada kapling ayah. 2 sosok laki-laki dan perempuan yang berperan penting dalam kehidupan seorang anak. Kelekatan paralel ini akan membuat anak secara imaji membedakan sosok laki-laki dan perempuan sehingga secara alami mereka akan mengerti menempatkan diri sesuai fitrah seksualitasnya.

MasyaAllah...tabarakallah bu Elly...materi-materi beliau selalu menggetok kepala saya setiap kali duduk di ruang-ruang seminar. Sayangnya...kelas-kelas seminar parenting biasanya didominasi emak-emak, meskipun di dalamnya membahas tentang persoalan 'ayah'. Tapi kenyataan nya sulit sekali menggeret para ayah di kelas-kelas seperti ini. Bener apa betul???

Padahal parenting itu melibatkan 2 sosok di dalam rumah, ayah dan ibunya. Sebab persoalan anak bukan tanggung jawab emak semata. Al umm madrasatul ulaa, yes bener sekali Ibu adalah sekolah utama dan pertama anak-anaknya.  Tapi setiap madrasah pasti punya Kepala Sekolah yang menetapkan pijakan, dasar-dasar, dan arah, mau di bawa ke mana kapal rumah tangga ini berlayar. Dan Kepala Sekolah itu adalah seorang 'ayah'.

Bahaya kan mak...kalau sekolah ditinggalkan Kepala Sekolahnya?
Sebab ayah as a leader memegang peran sangat penting, sebagai role model bagi anak-anaknya dalam hal kepemimpinan, ketangguhan, bertahan, kerja keras, problem solving, kemandirian, bersosialisasi, bernegosiasi dan peran-peran keummatan lainnya. Anak akan banyak belajar dari ayahnya bagaimana menjadi dirinya sendiri, sebagai seorang mukallaf (yang wajib menjalankan kewajiban syariah), sebagai seorang pemimpin rumah tangga dan lainnya, dan sebagai seorang makhluk sosial yang akan berinteraksi dengan umat nantinya.
Kepada ibu, anak belajar welas asih, kasih sayang, kesabaran, empati dan seterusnya.

Fenomena 'fatherless country'  ini menyebabkan jiwa anak menjadi kerdil, terperangkap dalam tubuh dewasa, tapi tidak tangguh, kurang mampu beradaptasi, minder, mengalami disorientasi seksual, rentan menjadi korban bully, kekerasan dan seterusnya.


Ramadhan dikenal sebagai bulan tarbiyah, bulan pendidikan, bulan pengkaderan, bulan pentrainingan, bulan muhasabah, kembali ke titik nol bagi diri seorang muslim menjadi pribadi yang lebih baik lagi tak terkecuali bagi seorang 'ayah'. Bulan penuh berkah yang hadir setahun sekali ini agaknya menjadi bulan untuk memulai sebuah misi 'perbaikan'. Bila bu Elly mengatakan 'kembalikan ayah pada singgasananya'. Maka bulan Ramadhan ini bisa menjadi momentumnya.

Ramadhan Tepat sekali untuk bermuhasabah. Sejatinya persoalan anak bersumber dari persoalan orang tua yang tidak selesai dengan dirinya. Maka menepilah sesaat, tuntaskan apa yang belum tuntas, selesaikan apa yang belum selesai, isi apa yang perlu diisi, supaya bisa berdiri tegak menyongsong jalan pulang ke singgasana sesungguhnya, engkau adalah superhero di hati anak-anakmu.

Dear ayah...gandenglah tangan anak lelakimu menghirup udara segar di shubuh hari, bersepeda motor atau jalan kaki menuju rumah Allah untuk melaksanakan sholat shubuh berjama'ah. Nikmatilah pagi itu meski kantuk mendera dan kau akan terburu-buru ingin mengejar finger di kantor. Tapi...tidakkah kau ingin melihat jiwa anakmu tumbuh kuat sekuat Al fatih sang penakluk Constantin? Tidakkah kau membaca sirahnya bagaimana Alfatih menseleksi pasukan penakluknya? Mereka adalah pemuda yang tidak pernah meninggalkan sekali waktupun subuh berjama'ahnya sejak dari balligh...masya Allah...

Ayah...di Ramadhan ini, letakkanlah smartphonmu, tinggalkan sejenak laptopmu, silentkan panggilan sahabatmu sebentar saja. Mainlah bersama mereka tak usah pun lama. Asal hatimu hadir 15 menitpun sudah amat sangat berarti. Berceritalah...tanyalah perasaan mereka hari ini, bagaimana hari-harinya, sahabat-sahabatnya, mainannya, sholat dan puasanya dan apasaja asal kau bisa terkoneksi dengan perasaan nya. Bacakanlah kisah-kisah, nggk mesti emaknya saja, suaramu pun indah kalau terbiasa. cerita heroik semisal perang Badar dan Uhud pasti lebih epic bila engkau yang membacakannya. cobalah...

Dear para ayah....ajak dung anak sesekali jenjalan, beli bukaan sekalian ngabuburit kah, ngeliat taman kah,  main di lapangan kah, nggak mesti jauh, keliling komplek juga asik kok asal kamu ikhlas melakukannya...hehehe...

Di bulan Ramadhan ini ada aktivitas ibadah istimewa yang dijamu Allah buat kita yang tidak akan ditemukan di bulan-bulan lainnya. Yaitu sholat tarawih berjamaah di masjid. Ini bisa banget jadi momen menguatkan bonding bersama anak lelakimu. Ayo dong...ajak mereka komitmen setiap malam. Siapa lagi yang mengajarkan mereka menghidupkan malam-malam Ramadhan kalau bukan kamu?

Sahur bareng sambil bercanda pasti seru yah...anak butuh dihibur biar semangat berpuasa. Sesekali jadi komedian yang buat anak dan emaknya terpingkal-pingkal tertawa pahala lho...coba deh....jangan tegang mulu' mikirin dunia yang tak ada habis-habisnya ini yah...hahaha...

Semoga Allah memudahkan proses ayah-ayah kembali ke singgasananya di Ramadhan ini ya...mudah-mudahan ini Ramadhan paling berkesan bagi anak-anak dan keluarga. Aamiin

Happy kids happy wife happy life
Barokallah







8 komentar

  1. Setuju bgt mbak. Dan bonding kudu dr kecil. Kalo udh remaja menuju dewasa udh sibuk sndiri. Barulah sang ayah sadar dan nyesel T-T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya...time flies so fast kadang ortu nggk nyadar yak. Tetiba anak dah SMP aja. Dah baligh aja. Dan waktu nya lah dia keluar nyari teman2 sebayanya. Dan kita pun rindu masa2 kecilnya.

      Hapus
  2. Yaps.
    Nice writing mba Ning.
    Yang lagi happen, curhatan suami soal kerjaan domestik rumahan.
    Bukan menjadikan istri sebagai ratu, malah babu rumah tangga.

    Kalo istri udah gak nyaman, gimana mau mendidik anak dengan benar...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mbak...suka deh liat ayah2 yang terlibat juga di rumah. Kadang kl ayah pulang waktunya emak2 bernafas, ngaso sesaat.

      Hapus
  3. awak komen apa ya...
    super dah mba ning..
    anak awak tiga2nya lebih dekat ke bapaknya. kalo bapak ada, emak gak laku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren berarti super ayahnya mbak...anak-anak pada enjoy sama ayahnya.

      Hapus
  4. kalo di anak2ku, ayah itu tempat main dan belajar, mamak tempat manja2an, minta makan, dan kelonan sebelum tidur, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dah ada job desc nya ya mbak...asik mbak kl begitu

      Hapus