Bakulan buku - bisnis alternatif yang menjanjikan dan memberdayakan (part 1)


If you think you can
You can....

Dulu saya termasuk orang yang nggak bisa jualan. Alhasil sejak SMA sampai kuliah bahkan menikah selalu jadi target jualan sahabat-sahabat saya. 

Banyak lah sudah MLM yang dimasuki, bukan karena ingin rutin membeli produknya atau ingin menjalankan bisnisnya, tapi lebih karena nggak bisa bilang ' tidak ' kalau sudah ditawari. Hahahaha...ada yang sama kayak saya?

Ternyata 'punya anak' merubah mindset saya. Berawal dari ingin membelikan anak buku-buku yang bagus...mamak mana sih ya yang nggak pengen belikan anaknya buku-buku keren?  Tapi tau sendiri kan...buku-buku premium di Indonesia ternyata harganya pun premium. Belum lagi acara minta izin sama suami ahhh....bisa-bisa 24 SKS nggak kelar diskusinya. Pasti komplain pertama kali yang keluar 'buku aja kok mahal kali sih?' 

Nah...Kenapa sih buku-buku premium itu mahal ? Karena buku premium itu biasanya berkonsep dan base on research no abal-abal. Ada bahkan yang research nya sampai memakan waktu bertahun-tahun. Tapi biasanya buku-buku seperti ini longlast. Bertahan dan menjadi best seller dari generasi ke generasi.

Semua sisi dari mulai cover, warna, tulisan, layout, ilustrasi apalagi konten semuanya diperhatikan dan disesuaikan dengan pembaca saat itu. 

Selain itu, Materinya biasanya terintegrasi dengan visi misi tim penulis. 1 paket nya biasanya memuat banyak sekali informasi sehingga biasanya bisa terpakai lama bahkan sampai usia sekolah. Trus punya arah pencapaian yang jelas...misalnya mau mengenalkan anak dasar-dasar Iman dan Islam, sirah Nabi, sahabat, bahkan English dasar, math dasar, sains dan pengetahuan dasar kita orang tua tinggal milih mau memasukkan muatan yang mana ke dalam kurikulum rumah. Bener bener dah jadi sahabat orang tua membersamai anak di rumah.

Nah...balik lagi ke cerita bakulan, singkatnya, dalam sebuah seminar parenting saya dipertemukan dengan sosok inspiring yang menyirep saya jatuh cinta dengan buku anak pada pandangan pertama. 

Saya ingat banget clue yang disampaikan beliau saat itu 'bahwa imajinasi itu lebih hebat dari pengetahuan dan imajinasi itu bukan sekedar gift (pemberian), tapi harus dilatih sedini mungkin...ya...imajinasi itu dilatih, kata beliau. Bagaimana cara melatihnya? Salah satu caranya dengan membacakan buku setiap hari'. Penjelasannya masuk akal sekali.

Finally saya memutuskan membeli 1 paket buku Cakrawala Pengetahuan Dasar (CPD) saat itu juga dengan cara mencicil selama 11 bulan.

Lalu...mulailah saya diracuni oleh Supervisor perusahaan yang buku nya saya beli itu begini : 
'mbak Ning...bisa loh buku yang mbak Ning beli ini gratis' 
Oh ya?? caranya?? 
'Mbak Ning tinggal jual 10 paket dalam waktu 3 apa 6 bulan kalau nggak salah, saya lupa, so buku yang mb Ning cicil ini jadi gratis.  Itu namanya Cash Back Program mbak...'.

Dengar buku seharga Rp. 2,7 jt an itu bakalan dapat gratis. Mata saya langsung kayak kejatuhan lope lope dari langit...hahahaha....mamak langsung kebayang bisa kekep dompet.

Ngak terlalu mikir kalau 10 paket buku itu setara 27 an juta. Yang saya ingat, untuk pertama kali dalam hidup ini, saya merasa tertantang 'jualan' demi bisa beliin buku bagus buat anak saya. Ternyata banyak jalan mendapatkan buku-buku keren untuk si buah hati. Kalau bisa gratis, ngapain mesti nguras uang belanja, iya pulak....Konon orang thingking seperti saya memang suka di challenge.

10 buku dalam waktu 3 bulan bismillah, insya Allah bisa. Tantangan saya terima tanpa ragu. Ntah kenapa muncul aja keyakinan bahwa saya bisa. Padahal ini pengalaman pertama saya, dan yang harus saya jual adalah 'buku' pula...bukan baju, tas, kosmetik atau makanan. Apalagi buku bukan sembarang buku tapi premium seharga sebuah ponsel Blackberry zaman itu.  Ohaaiiiii...saya sebenarnya masih meraba dalam gelap akan mulai dari mana. Tapi The power of emak-emak itu waaar  biyasak gustafo...'. Apapun dijabani demi anak.

Mulailah saya keluar dari zona nyaman, sesuatu yang sama sekali belum pernah dilakoni. menceburkan diri di dunia perbakulan buku anak. Waktu itu belum begitu faham jualan online, jadi action pertama langsung hard selling door to door. OMG....ini bener-bener seru tak terlupakan.

Mulailah buat daftar list, menghubungi teman dekat, teman jauh, saudara dekat, saudara jauh lalu janjian datang ke rumahnya untuk jelasin pentingnya seorang ibu bacain buku bla bla bla...4 jam saya habiskan untuk menghyer 1 calon pembeli, dibeli? Nggak....hahahahhaha....

Pengalaman pertama kali nawarin buku ke temen, dengan membawa buku sakti seorang sales buku yaitu buku Prospektus yang lumayan tebal itu, udah kayak mo ujian skripsi.  Mata saya kayak panas kayak berair mata terus, tangan dingin dan jadi pengen ke toilet terus, ya Allah tetiba merasa harga diri jatuh di ujung sepatu bhuahahhahaa...malu yang tak pada tempatnya itulah yag saya rasakan dulu. Mental blocking itu masih tebal pemirsa...hihihi...tapi penolakan pertama justru memacu adrenalin saya berjalan ke depan menuju target selanjutnya.

Presentasi pertama nggk jadi beli karena alasan suami, kedua nggak beli karena suami nggak setuju, ketiga mau nanya suami dulu nanti dihubungi lagi ternyata hasilnya sama nggak setuju. Keempat kelima dan keenam... krik..krik...

Gini ternyata romantika pedagang ketika menghadapi penolakan demi penolakan. Berjuta rasanya acem rollercoaster. Vini vidi visi itu kok kayak jauuuuh tergantung di kayangan.

Butuh 7 kali penolakan sampai akhirnya suatu hari suatu ketika saya berhasil closing alias bisa menjual 1 paket buku. Masya Allah...Badan tetiba ringan acem mo melayang-layang...dah kayak si Ikal laskar pelangi waktu liat jarinya si Aling....bunga-bunga di mana-mana...senengnyaaaaa...

Meski perjuangan mencapai target belum selesai. Masih harus mencapai 9 paket lagi. 

Berbecak-becak dan berpanas atau kadang gerimis ria, mendatangi rumah sahabat, saudara bahkan pasien sungguh pengalaman la terkatakan. Kadang pulang ke rumah berhadapan dengan wajah kecut suami yang nggak setuju karena saya kelamaan meninggalkan anak dan beberapa pasien  yang sudah lama menunggu terlantar dan akhirnya pulang. Hiks bener-bener sesuatu yang dilematis di awal-awal saya membranding diri sebagai bakulan buku anak-anak. Terjal ternyata jalannya kawan...tantangan terbesar saya adalah izin suami, yang lebih nyaman kalau saya fokus di rumah mengurus anak dan klinik gigi saja.

Tapi challenge saya harus tuntas sesulit apapun tantangannya. Pelan-pelan, tarik ulur saya berusaha meyakinkan suami untuk terus bergerak menemukan jalannya.

Alhamdulillah upaya itu pun tak sia-sia. Penat saya terbalas, dlm waktu 3 bulan saya berhasil menjual 10 paket buku premium setara 27 an juta done...mission complete !

Artinya... buku yang sudah nangkring manis di rak buku di rumah itu truely gratisss tisss...alhamdulillah...ini pencapaian pertama saya sebagai seorang emak bakulan. 

Sebenarnya motivasi utama saya bukan melulu ' demi buku gratis' guys...tapi saya ingin melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Kadang kita perlu menantang diri sendiri seberapa gereget kamu keluar dari zona nyamanmu. Menantang diri sendiri juga untuk berani mencoba hal-hal baru. Meyakinkan diri saya agar 'kerja keras melawan keterbatasan'. Ternyata kita bisa melampaui ketidakmampuan di dalam diri kita kalau kita mensetting fikiran bahwa 'kita bisa'.  Dengan izin Allah akan selalu ada kemudahan setelah kesulitan.

Ahhh...alhamdulillah, saya merasa bersyukur, melalui buku Cakrawala Pengetahuan Dasar itu mengajarkan baaaaanyak sekali hal-hal baru kepada saya dan anak saya. Sampai sekarang pun buku ini masih jadi one of his fav book.

Anak seolah ngerti ya...penuh keringat dan terpontang pantingnya emaknya menghadirkan buku itu. Bahkan beberapa judul buku udah lecek dan sobek saking seringnya di baca kala itu. Alhamdulillah. Ini satu hal yang paling tak bisa diuangkan.

Buku CPD ini menjadi jendela bagi saya menapaki jalan dan kesempatan-kesempatan lain, bertemu dan menemukan hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Banyak banget pengalaman yang mengaduk-ngaduk emosi dan kepasrahan tingkat tinggi pada yang maha memiliki rejeki. Plus membuka view bahwa dunia bakulan buku ini menjanjikan. Banyak yang bisa sukses, bahkan ada yang bisa menyekolahkan anaknya hingga ke luar negeri dari usaha bakulan buku.

Buat yang pengen menjajal sebagai bakulan buku, langkah pertama boleh lah dicoba : afirmasikan big dream kita. Kalau saya di awal bigdream saya menghadiahkan anak saya buku bagus. Mamak bisa saja mengafirmasi big dream yang lain semisal pengen naik haji atau umroh misalnya, pengen punya rumah, pengen bahagiain keluarga, pengen beli kendaraan, jalan-jalan ke luar negeri atau apapun. Afirmasi big dream itu semacam batubara yang membuat kita semangat terus bergerak, selanjutnya action...sehebat apapun afimasi impian kita tanpa action nyata bakalan tetap jadi sebatas mimpi saja. 

Next...saya dijuluki ratu CPD (cakrawala pengetahuan dasar) karena buku yang saya jual melulu itu dan itu lagi...Hahaha...

Allah memang sesuai dengan prasangka hambanya. Ketika saya berfikir bisa bisa dan bisa jual 10 buku CPD, target saya CPD CPD terus...maka Allah ijabah, closingan saya pun CPD terus.

Saatnya kembali mensetting fikiran, saya ingin naik kelas...challenge selanjutnya menjadi lebih menantang.
Gimana kisah pencapaian selanjutnya?
Tunggu tulisan berikutnya ya...








Tidak ada komentar