Tetaplah setia pada harapan






Beberapa hari yang lalu,  seperti biasa , saya ada janji dengan pasien ketemu di pagi hari, sekitar pukul 10.00 wib. Pasien saya kali ini gadis kecil berseragam putih biru, dengan kasus gigi depan crowded (berjejal) sehingga memerlukan pemasangan fix appliance atau istilah kerennya behel gigi.


Sambil melakukan pemasangan piranti ortodonti di gigi si gadis, cerita-cerita santai pun bergulir menemani persuaan hari itu dengan sang bunda.


Seperti biasa tentang anak selalu jadi warm issue yang di perbincangkan di ruang berukuran sekitar 2x6 meter itu.
Tak habis memang cerita tentang anak. A to Z nya selalu menarik untuk dibahas. Kali ini perbincangan tentang perjuangan mendapatkan sang buah hati agaknya memantik emosi, saya memasang telinga lebar mendengar cerita yang mengalir, sesekali saya memperhatikan mata yang sedikit bergenang air di sana sambil terus fokus menyelesaikan tugas saya.


' saya dulu sampai dikira orang gila halu lho dok, karena saya yakin hamil. Dalam pandangan saya test pack kehamilan itu bergaris 2 sementara semua saudara-saudara saya melihat 1. Saya haqqul yakin saya hamil dok...karena saya berkali-kali  bermimpi, dan saya yakin Allah memberi kabar kembira lewat mimpi saya.


'Dokter kandungan memeriksa dengan USG mengatakan tak ada kantung kehamilan saya, tapi saya tetap bersikukuh saya hamil. Berhari-hari saya meyakinkan orang-orang di sekeliling saya bahwa saya hamil tapi tak ada satupun yang percaya malah menganggap saya depresi...karena terlalu terobsesi memiliki anak'.


'Tapi hari-hari berat yang saya jalani dok akhirnya berbuah manis...karena beberapa minggu kemudian saya cek ke SpOg dan dinyatakan positif. Barulah semua orang-orang dekat saya termasuk suami saya percaya. Saya memang yakin dok dengan seyakin-yakinnya kalau Allah berkata 'jadi' maka jadilah, ya kan dok'

Sayapun mengaminkan perkataan beliau.

Ahhh ibu masya Allah....keyakinanmu...kekuatanmu...
Saya jadi teringat masih memiliki hutang menyelesaikan membaca novel nya mbak Hanum dan mas Rangga yang tertunda sekian lama.

Sebuah Novel best seller berjudul 'I am Sarahza ' ini, mencuri perhatian saya, bukan karena banyaknya testimoni positif yang berseliweran di timeline saya, bukan juga karena penulisnya adalah putri seorang tokoh reformasi ternama negeri ini, bukan juga karena latar belakang sang penulis yang seprofesi sama-sama seorang Dokter Gigi, tapi ada yang lebih menarik dari itu.

Denyut perjuangan menjadi pejuang buah hati setidaknya menarik saya kembali menapak tilas bentangan takdir saya beberapa tahun yang lalu. Ketika 7 tahun kehidupan pernikahan saya masih senyap dari celoteh dan tangisan bocah, ketika  tangan-tangan ini tak henti menggantungkan harapan di langit.

Ketika puluhan test pack terkadang membuat lelah membelinya lagi karena tak kunjung memberi kabar gembira. Atau ketika pertanyaan 'udah hamil? Udah isi? Belum lagi? Akhhhh... berepetisi seperti dejavu tiap kali ada pertemuan keluarga...sungguh menyesakkan dada.

Ini pertanyaan sensitif tau??? Gemes banget sebenarnya,  sama gemesnya mungkin kayak jomblo ditanya kapan meritnya? atau mahasiswa tahun akhir ditanya-tanya kapan wisuda? Serasa pengen gigit-gigit kabel hahaha...

Frekuensi dan spirit yang disampaikan buku ini : 'di mana ada harapan di situ ada kehidupan' menjadi pemantik saya untuk memiliki dan akan membaca tuntas novel ini.

Untuk apa? Untuk mempertegas dan memperpanjang gulungan syukur saya hari ini dan esok, bahwa ada doa yang diijabah dan merubah takdir keberadaan saya sejak hari itu, bahwa saya akhirnya dipercaya menjadi seorang Ibu.

Di tahun ke 7 pernikahan, Allah mengganti kehilangan mama-cinta terindah saya dengan bayi laki-laki, sehat, 3,6 kg, 52 cm, di usia hampir 33 tahun, alhamdulillah...

Momen ini selalu ingin saya abadikan di hati, saya gaungkan setiap hari, jadi alarm ketika melakukan interupsi berlebihan atau saat amarah membuncah kepada beliau 'Muhammad Arkan Ramadhan' - 'tamu' yang dititipkan Allah agar dijaga dan dibersamai sepenuh hati. Astaghfirullah...kadang mulut emak-emak ini suka khilaf yak...

Bagi para pejuang buah hati, atau siapa saja yang jatuh cinta pada kisah heroik seorang ibu mendapatkan gelar 'ibu', bacalah buku ini.

Saya sering mendengar, atau membaca kisah-kisah para perindu buah hati tapi sungguh kisah yang ditulis duet Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra sepanjang 355 halaman ini bener-bener true story yang luar biasa dan mengagumkan.

Ceruk-ceruk emosi dan tabula rasa tergambar gamblang di sana. Puluhan terapi, di Viena, di klinik fertilisasi terbaik di Eropa - kala masih menjalani program doctoral scholarship, hingga pulang dan menjalani terapi di Indonesia, ratusan jarum suntik, empat kali inseminasi, 6 kali bayi tabung, jutaan do'a tak bertepi, berkalang badai depresi hingga akhirnya Allah menganugerahkan Sarahza, sungguh membelalakkan mata betapa hebatnya ikhtiar dan doa.

Ketika membaca kisah Hanum dan Rangga memperjuangakan Sarahza, Saya jadi merasa tak ada apa-apanya ikhtiar saya 8 tahun lalu saat memperjuang Arkan. Di atas langit ada langit... Masya Allah...

di banyak part saya tak kuasa membendung haru, buku ini penuh lubang patahan emosi sekaligus piranti penyembuhnya. Buku yang berbicara tentang diri perempuan, laki-laki,  ketika bersatu dan bermimpi, lantas langit menguji kesetiaan mereka ketika hope tak sesuai dengan realitas.


Banyak sekali yang bisa diurai menjadi renungan, simak saja pergolakan Hanum ketika memutuskan melepas 'karir cemerlang' sebagai jurnalis dan presenter di salah satu TV nasional terkemuka, demi pengabdian kepada rangga yang akan berangkat ke Austria, ahhh mantra ibu selalu jadi korek api yang membuat Hanum berfikir ulang untuk memilih mana yang paling penting dalam hidup.

Atau ketika Rangga merayu Hanum untuk menterapi dirinya dengan menulis, karena menulis adalah salah satu cara menghadang kecewa. Betapa suami istri ini saling menguatkan dan memberdayakan even di masa-masa sulit sekalipun. Jadi pelajaran nih buat kita-kita, ketika berkalang rapuh dan  berkali-kali gagal, cobalah menulis. Menulis adalah terapi yang menguatkan jiwa.

Simak juga ketika lagi-lagi mantra Ibu meluruhkan keras dan bekunya Trauma Hanum untuk mencoba berusaha lagi memperjuangkan Sarahza...masya Allah...Ibu ini sampai ikhlas diserang Bells Palsy dan mengabaikannya demi menemani Hanum mencoba program bayi tabung untuk yang ke 6 kali.

Simak juga bagaimana Allah membelai duka lara dengan kabar-kabar bahagia. Pencapaian buku-buku Hanum dan Rangga yang menembus best seller nasional, bahkan menjadi penulis skenario film yang sebelumnya tak terbayang. Tentu saja diikuti penuhnya pundi-pundi finansial mereka.

You see ?  Skenario Allah bekerja lebih indah dari pembuat skenario hebat manapun.
Ketika Hanum ikhlas melepas karir di luar rumahnya, ternyata beberapa waktu kemudian Allah telah menyiapkan karir lain yang lebih cemerlang buatnya.


Bila pada akhirnya badai depresi berlalu, lagi-lagi kisah ini mengajarkan bahwa titik nadir keputusasaan tak kan menyentuh hati yang menerima luka, pasrah dan bersandar pada ketentuan Allah...Allah akan memeluk rapat hambanya yang mendekat. Tak akan membiarkannya jatuh tersungkur pada tipu daya setan dan dunia.

Sarahza, bayi mungil Hanum dan Rangga...mengajarkan kisah indah bahwa jangan berhenti berdoa dan berusaha bagi pejuang-pejuang buah hati di luar sana. Lihatlah kisah ini, hiruplah romatikanya....

'Di mana ada harapan di situ ada kehidupan'



#dentiststory


















24 komentar

  1. Haru sekali cerita kakak..

    Apapun keadaan kita, orang2 yang julid selalu ada ya kak..

    Memang kita mesti banyak2 bersyukur biar gak masukin negatif aura orang2 itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hu um dek...bersyukur n fokus aja dengan diri sendiri walaupun sulit ya kan...toh takdir terbaik kita nggak akan salah waktu dan tempat meski 1000 orang nyinyirin.

      Terima kasih dek sudah berkunjung.

      Hapus
  2. Allah sungguh menitipkan banyak rahasia ya kan kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ka...kadang awak yang salah besikap karena tak faham hikmahnya.

      Hapus
  3. Baca ulasannya disini udah berasa pilunya KakDok.
    Nice share kak, semangat nulis dan menginspirasi

    BalasHapus
  4. MasyaAllah semoga di 8 tahun pernikahan ku diberikan momongan yg dinanti dan jg pengganti ibuku dirumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Rabbal alamiin...insya Allah mb des...semangat dan doa terus ya

      Hapus
  5. Aku baru tau buku ini. Apa bakal di filmkan seperti 3 film mereka sebelumnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dilirik juga sama prod flm. Bakalan buat mewek nih...

      Hapus
  6. Aduh gak nyesel baca nya,ilmu nya banya banget dari sini,
    Aku yang lagi berjuang semoga akan berbuah manis juga

    BalasHapus
  7. Semangat berjuang terus mbak...insya Allah berbuah manis...

    BalasHapus
  8. jadi teringat perjuangan diri sendiri ketika mengandung dan melahirkan anak2.
    kapan-kapan saya mau ah nulis pengalaman ini.

    buat dokumen juga biar dibaca anak-anak kelak ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Momen yang nggk bisa dilupakan ya bund. Sabar menanti tulisan bunda nih, pengalaman hamil dan lahirannya.

      Hapus
  9. MasyaAllah ceritanya kak.. aku aja yg dulu cuma 2 bulan kosong, beberapa kali mewek hanya karena rata2 keluarga menikah langsung hamil jadi ditanyain terus. Apalagi 7 tahun?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dyah...jadi pengalaman berharga lah sama kami. Alhamdulillah asalkan dengan pasangan tetap kompak insya Allah bisa melalui ujian 2 pernikahan itu.

      Hapus
  10. Bisa dijadikan pelajaran nih kak buat kita dan orang-orang di sekitar kita

    BalasHapus
  11. Wah, baru tahu rasanya perasaan seorang wanita yang berjuang untuk dapat momongan, saya memang tidak sesusah itu, tapi dari ulasan ini belajar lagi untuk lebih empati dengan mereka. Nice share mbaM

    BalasHapus
  12. Takdir berada di ujung usaha manusia...

    BalasHapus
  13. Bersangka baik sama Allah ya kak... Haqqul Yaqin.

    Alfi juga ngalami tentang pekerjaan. Disaat yang lain bilang kalau Alfie ditipui dan diberi janji manis oleh perusahaan untuk bekerja, Alfie tetap yakin tidak demikian. Dan Alhamdulillah sekarang bekerja.

    BalasHapus
  14. wah iyaaaa baca ini bikin mewek parah mbak T-T smoga kita smua slalu diberikan kesabaran dalam hidup. aamiin ya rabb

    BalasHapus