Alternatif Liburan di dalam kota : Visit Museum Uang Sumatera

Bagi ayah bunda yang memasukkan kurikulum pengasuhan keuangan sebagai salah satu lifeskill yang kudu dimiliki anak-anak sejak dini, momen liburan ini bisa banget di manfaatin buat mengenalkan tentang fisik dan sejarah 'uang' kepada ananda.

Tak ada salahnya belajar sejarah uang dari masa ke masa, agar sedikit banyak anak-anak tahu instrumen yang digunakan untuk bertransaksi pada peradaban masa lampau hingga kini. Sejarah adalah masa lalu tempat kita mencari tau pernak pernik kehidupan sekaligus memetik banyak pelajaran.

Yuuk ahh...melipir syantik ke Museum Uang Sumatera yang terletak di jalan Pemuda No 13 A U R kecamatan Medan Maimon. Tenang saja, museum ini tak jauh dari pusat kota, hanya sekitar 4 km dari Lapangan Merdeka Medan atau sekitar 3 km dari Istana Maimoon.






Meski masih sederhana, Museum milik pribadi Bapak Safarudin Barus ini merupakan satu-satunya museum uang di Sumatera bahkan di Nusantara lho...

Museum ini boleh dibilang sebagai destinasi unik yang diharapkan bisa berkembang sebagai salah satu icon wisata kota Medan. Semoga semakin hari semakin banyak ya yang berkunjung ke sini.





Tak perlu merogoh kocek yang dalam untuk sekedar menikmati sajian museum ini, karena pengelola belum menetapkan tarif pengunjung hingga saat ini. Hanya saja jika kita ingin membawa pulang oleh-oleh souvenir berupa 2 koin kuno peninggalan kesultanan Palembang tahun 1659-1825, cukup dikenakan biaya Rp.10.000,- per orang. Sangat terjangkau bukan ? Bahkan buat kocek pelajar sekalipun.






Next...mari mulai menjelajah, apa saja yang ada di sini ?

Begitu naik ke lantai 2, pandangan kami langsung tertuju pada 4 buah mesin antik yang berjejer di samping kiri. Ternyata ini adalah mesin pencetak uang kuno ' Oeang Republik Indonesia Tapanuli (ORITA)'  percetakan Philemon Bin Harun Siregar yang digunakan sekitar tahun 1949. Ini adalah mesin cetak uang yang khusus digunakan untuk memenuhi kebutuhan uang di Pulau Sumatera pada masa itu.




Pemandu Museum yang hangat dan ramah akan mengajak kita berkeliling menyusuri ruangan persegi dengan rak-rak kaca bersusun rapi, yang dibagi dua fungsinya yaitu untuk memamerkan pecahan koin dan uang lembaran dari mulai zaman kerajaan, kolonial, kemerdekaan hingga kini.

Wawww lumayan banyak sekali  ternyata koleksi koin dan lembaran-lembaran uang di sini, ribuan dan sangat beragam.

Ternyata fungsi uang di zaman dahulu selain sebagai alat transaksi, juga dipergunakan sebagai alat tukar di perkebunan yang tidak berlaku di daerah lain ( jadi bisa digunakan sebagai penanda teritorial) , dan  digunakan sebagai kode untuk menunjukkan perlawanan terhadap penjajahan.

Bila ditelisik, di sini ditemukan banyak sekali uang-uang bahkan dari berbagai wilayah Sumatera Utara seperti Siantar, Kisaran, Labuhan Batu dan Tapanuli.
Menariknya kita juga bisa menemukan  uang di daerah yang hanya menggunakan selembar kertas yang distempel oleh pemerintah yang berkuasa saat itu. Unik kan?







Koleksi koin perak, kuniangan, tembaga bahkan emas murni dari zaman kerajaan tak kalah banyaknya. Kerajaan Jenggala, Majapahit, Sriwijaya, Syailendra, Demak, Banten, Jambi, Palembang, Siak, Deli hingga Aceh tersusun rapi. Koin peninggalan penjajah, VOC, koin berbagai negara, dan koin yang dikeluarkan Bank Indonesia pun tertata apik di sini.

Mau ngetes kalian dari generasi mana? Pandanglah uang-uang yang dikeluarkan bank Indonesia yang berjejar rapi di dinding ruangan ini. Umur tak menghianati ingatan anda tentang uang...wkwkwkwkwk...

Saya langsung senyum liat koin pecahan limper (lima perak), selawe ( 25 perak).  Ahhh jadi ingat zaman opak plus bumbu kacang, atau es ganepo kesayangan, teman jajanan sepanjang SD di kebun dulu. Hahaha...dan uang lembaran hijau bergambar monyet....wkwkkwkwkwkkw...jadul tapi ngangenin ini mah...kangen kenangannya...




Bicara tentang sejarah uang Indonesia, tak lepas dari dokumen-dokumen dalam bentuk buku yang mengabarkan peristiwa lampau itu kepada kita hari ini. Selain uang, museum ini juga mengabadikan buku-buku lawas tentang sejarah uang Indonesia.




Sayang kami tak sempat mengeksplore buku-buku itu karena harus segera pulang.

Puas menjelajah perkoinan di bagian kanan ruang lantai 2 museum ini, kami pun melanjutkan ke sisi kiri tempat uang lembaran-lembaran dipajang. Abang guide dengan sabar menjelaskan sejarah De Javasche Bank Netherlander milik Belanda lengkap dengan koleksi seri uang yang diproduksinya.

Ada uang langka yang konon katanya bila dilelang mencapai RP. 900 juta lho...wawww...

itu adalah uang di masa kolonial yang bergambar wayang...wah wah wah...hari gini lumayan kan ya kalau dilepas, apalahi ke kolektor luar negeri. Tapi Pak Safaruddin sudah bertekad tidak melelang koleksi uang-uang kuno miliknya demi menjaga supaya koleksi-koleksi tersebut tetap berada di Indonesia dan bisa disaksikan dan dipelajari oleh anak-anak generasi penerus Indonesia...keren dan mulia sekali ya...patut kita apresiasi.

Tak sampai 1 jam berada di sini, semua sisi sudah dilihat.
Lelah menjelajah semuanya ? Jangan lewatkan berswa photo bersama ananda di spot-spot museum ini dan bubuhkan tanda tangan di kanvas besar yang sudah disediakan pengelola ya...






Daaan....saatnya pamit.

Semoga museum uang sumatera semakin baik lagi dan semakin banyak dikunjungi anak-anak Medan tercinta.
Semoga menyusul dibuka tempat-tempat wisata edukasi lain di Medan.


Yuuk ke Museum Uang Sumatera !!!


Tidak ada komentar