One word can change you

Suatu ketika saya pernah lose control ke anak saya,Arkan. Saya pernah marah yang suaranya sedikit meninggi. Waktu itu reaksi Arkan langsung masuk ke dalam kamarnya sambil menutup pintu.

Saya mengikutinya ke dalam kamar, membuka pintu perlahan, Arkan memandang ke arah saya, ada bulir-bulir bening di sudut mata bundarnya, tapi anehnya bibirnya melengkungkan senyuman lebar....

Melihat pemandangan seperti ini tetiba nyesek. Seolah Arkan ingin mengatakan : 'dont warry bunda....everything is gonna be ok....' 

Bocah 7 tahun ini berusaha menahan emosinya. Saya langsung mendekat, duduk tepat di dapannya.

'Arkan kesal ya sama bunda?' Tanya saya selembut mungkin. Ntah kemana suara mendekati 1 oktaf tadi...yang jelas perasaan bersalah segera menghantui saya.

Huhuhuhuhu.....tangisnya pecah...
'Arkan nggak mau bunda marah-marah. Kan Arkan bisa dibilangi nggak pake marah-marah bunda'

Jlebb....astaghfirullah...terkadang stok sabar saya menipis, sehingga saya tak kreatif lagi mengajak arkan melakukan hal baik. Padahal bocah 7 tahun ini butuh cara2 yang tidak monoton dalam mengingatkannya berbuat sesuatu.
Terkadang dia hanya butuh sedikit tambahan waktu untuk bermain, tapi saya menggesa-gesakannya.

Saya langsung meluk Arkan, tangisnya masih ada tapi sudah mulai kurang.
Lalu, Saya lepaskan pelukannya. Saya genggam kedua tangannya, lalu mengecup jari2nya : 

'Maafkan bunda ya... bunda khilaf nggak bisa menjaga suara bunda supaya nggak naik. Tadi bunda mau Arkan segera pindahkan box-box mainan Arkan, tapi Arkan malah main terus, maaf ya....'

Lalu saya kembali memeluk Arkan. Hati saya masih patah-patah....menyalahkan diri yang uncontrol. Satu tetes air mata anak itu rasanya teramat berharga. Tapi terkadang khilaf membutakan semuanya. Astaghfirullah....

'Iya....Arkan juga minta maaf sama bunda, lain kali Arkan nggak gitu lagi'.
Sambil terus berpelukan Arkan ngucapin sesuatu, pelan....tapi cukup jelas terdengar...

'Tapi....bunda tetap matahari arkan kok...pelukan bunda selalu hangat'


Oh nak....bunda pengen melting pengen jatuhin air mata. Masya Allah...fitrah anak-anak selalu cepat memaafkan dan tetap berprasangka baik di tengah milyaran khilaf orang tuanya. Tetap memuji, tetap menjadikan bundanya segalanya, tetap ingin segera menyelesaikan persoalan tanpa benci.

Satu kata itu merubah rasa di hati saya how lucky i am...bersyukur sama Allah diamanahi guru kecil yang selalu mengajarkan banyak hal baik. Terkadang merekalah trainer managemen angry saya. 

Pun kata-kata anak terkadang menjadi cermin. Sudahkah saya seperti apa yang diimajinasikannya untuk saya?

Tak henti,
Selalu mohon dimampukan Allah

#kelasmenulisceritaanak
#deadlineditengahhectichariini

1 komentar

  1. Ya Allah, Arkaaan huhu, awak pernah diposisi Kak Ning, huwaaa, gak pantes rasanya marah marah ke anak ya Kak. Arkan anak sholeh ^^

    BalasHapus