Featured Slider

Menyiapkan SDM unggul untuk Indonesia maju di Era Revolusi Industri 4.0


Jika anda menginginkan satu tahun kemakmuran tanamlah benih. Jika anda menginginkan sepuluh tahun kemakmuran tumbuhkanlah pohon. Jika anda menginginkan seratus tahun kemakmuran maka kembangkanlah manusia. (Pribahasa) 


2 minggu terakhir ini anak saya yang tengah duduk di bangku sekolah dasar, telah rampung melaksanakan ujian semester ganjilnya. Tapi di beberapa sekolah lain ujian semester belum usai. Anak-anak masih berkutat dengan soal demi soal ujian yang disajikan di atas lembaran-lembaran kertas putih.

Momen ujian kerap menjadi momok menakutkan bagi anak dan orang tua, ntahlah dari mana ketakutan itu muncul. Angka selalu jadi kambing hitam ketidakstabilan emosi orang tua setiap kali masa ujian tiba. Padahal angka tak salah apa-apa.

Tapi sudah terlanjur terbangun dalam mindset orang tua bahwa kesuksesan belajar seorang anak di bangku sekolah itu ditentukan dari nilai demi nilai, angka demi angka yang tertera di rapor sekolah.

Bahkan anak yang masih duduk di awal-awal sekolah dasar yang sejatinya mereka masih  sibuk memenuhi kepalanya dengan bermainpun tak luput dari tekanan ujian dan nilai rapor. Kognisi dianggap begitu penting tapi faktanya bukan segalanya. Kebahagiaan dan kemerdekaan seorang anak dalam belajar seolah dikesampingkan demi Rangking semata.

Sebagai Ibu, saya bersyukur, memasukkan anak saya ke sekolah yang punya visi misi yang mendekati visi misi keluarga yang saya dan suami saya terapkan - Sekolah berbasis karakter yang tidak melulu menjejali muatan-muatan kognisi yang membebani siswa. Bahkan ujian disikapi biasa saja, karena Guru di sekolah selalu meyakinkan orang tua bahwa semua anak hebat, mereka pasti bisa. Apalagi sekolah ini juga tidak menerapkan sistim rangking, jadi orang tua, tidak membiasakan diri melihat kelebihan dan potensi anak dari nilai-nilai rapor saja.

Tapi tak semua orang tua bisa memilih hal yang sama seperti saya atau orang tua lainnya bukan? Problematika dunia pendidikan seolah tak pernah surut, padahal di tangan sistim pendidikan yang di kelola negara, harusnya membuat orang tua bisa bernafas lega.

Menilik kemajuan suatu bangsa maka tak lepas dari sistim pendidikan yang membangun sumber daya manusianya. Pendidikan menjadi potongan kue paling besar yang sangat diperhatikan. Bukankah bila ingin menciptakan seratus tahun kemakmuran anak bangsa maka kembangkanlah manusianya?, begitu kira-kira kata pepatah.

Pernyataan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan - Nadiem Makarim dalam sambutannya di hari Guru Nasional 2019 beberapa waktu yang lalu, seolah mewakili suara hati dan keresahan banyak orang tua dan guru di seluruh penjuru Negeri akan sistim pendidikan selama ini. Teks pidato Pak Menteri ini kemudian viral di sosial media dan banyak menuai pujian berbagai pihak. Ini seperti angin segar bagi perubahan pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik.





Hari ini, sungguh tak terelakkan dan tak bisa dihindari, kita dan dunia memasuki sebuah gerbang baru yaitu revolusi industri 4.0. Semua mata tertuju pada apa dan bagaimana mempersiapkan segala elemen bangsa untuk menghadapi tantangan global dari perubahan ini.

Sudah menjadi kesejatian, kamajuan dunia diwarnai dari perubahan demi perubahan yang terjadi yang kemudian berdampak pada banyak aspek kehidupan. Revolusi Industri digadang-gadang sebagai era baru perubahan masif dan cepat yang membawa dunia pada perubahan di segala lini kehidupan - pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi yang berdampak pula pada perubahan tatanan ekonomi, politik, budaya bahkan militer di seluruh dunia.

Berbicara revolusi industri 4.0 maka kita tak bisa melepaskannya dari sejarah yang mendahuluinya. Sebab tak akan ada revolusi industri 4.0 tanpa revolusi industri 1.0, 2.0 dan 3,0 yang menjadi dasar pijakannya.






Revolusi industri 1.0 dimulai dengan ditemukannya Mesin Uap oleh James Watt pada abad ke-18. Penemuan ini penting sekali karena sebelumnya manusia hanya mengandalkan tenaga otot, tenaga air dan tenaga angin untuk menggerakkan apapun dalam kegiatan industri. Revolusi industri 1.0 mengubah masyarakat dunia dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri.


Penemuan mesin uap 
oleh James Watt
Source : www.zenius.net






Revolusi industri 2.0 pada abad ke- 19  sampai abad ke-20, ditandai dengan era baru penemuan listrik dan conveyor belt (ban berjalan) yang memungkinkan manusia memproduksi barang dalam jumlah besar dan memangkas waktu produksi menjadi lebih pendek.


Perusahaan Mobil Ford menjadi salah satu pionir dalam produksi masal mobil model T. Produksi mobil dalam jumlah besar ini menyebabkan harga menjadi lebih murah sehingga lebih terjangkau masyarakat.


Penemuan conveyer belt 
www.zenius.net


Perubahan di era revolusi industri 2.0 ini juga membawa perubahan pada dunia kemiliteran. Ribuan tank, pesawat dan senjata-senjata tercipta dari pabrik-pabrik yang menggunakan lini produksi masal.


Produksi massal pesawat terbang
Http://binus.ac.id



Setelah mengganti tenaga otot dengan uap, lalu mengganti produksi paralel dengan serial maka di era revolusi industri 3.0 yang berlangsung sekitar tahun 1970 -an, terjadi perubahan besar dimana tenaga-tenaga manusia sudah mulai diganti perannya oleh komputer dan robot yang bisa berfikir dan bergerak secara otomatis.

Era informasi pun tiba dan berkembang pesat sekali. Kemajuan teknologi komputer melesat seiring perputaran zaman. Penemuan semi konduktor, disusul transistor, lalu Integrated Chip (IC) membuat ukuran komputer semakin kecil sehingga bisa dipasang pada mesin-mesin produksi. Kini komputer menggantikan banyak manusia sebagai operator dan pengendali lini produksi.

Sekali lagi, revolusi mengubah masyarakat negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat cenderung berubah dari mengandalkan sektor manufaktur menjadi mengandalkan sektor jasa seperti bank, studio film, dan lain-lain sebagai motor penggerak laju ekonomi mereka.

Komputer pertamia di dunia
www.sidetek.blogspot.com 





Konsep revolusi industri 4.0 pertama sekali digunakan di publik dalam pameran industri Hannover Masse di kota Hannover, Jerman tahun 2011 lalu. Revolusi industri 4.0 yang berpijak pada penemuan sistim komputerisasi pada era sebelumnya, membuat terobosan baru dengan penemuan Internet. Penemuan ini begitu banyak melakukan terobosan melalui rekayasa intelegensia dan internet for thing sebagai penggerak dan penghubung manusia dan mesin.


Semua komputer kini tersambung ke jaringan internet. Komputer semakin kecil bahkan menjadi semakin kecil sebesar kepalan tangan manusia dalam wujud smartphone. Hampir semua orang kini tersambung dengan jaringan raksasa internet begitu pula mesin-mesin produksi. Penemuan Big data, Artificial Intelligence mengubah banyak hal dalam tatanan kehidupan masyarakat dunia. Banyak pekerjaan yang hilang dan muncul jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak terfikirkan oleh manusia.



Berbicara tentang revolusi industri 4.0 yang tengah terjadi kini, tak terlepas dari pelakunya, para pemantik sejarahnya. Konon generasi milenial adalah generasi yang paling mewakili sebagai pelaku perubahan besar yang kini terjadi di dunia bahkan Indonesia.

Menurut wikipedia, milenials adalah kelompok demografi setelah generasi X. Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahirannya.


Dalam sebuah forum bedah buku yang diadakan belum lama ini di Medan, Yuswohady penulis buku 'Millenials kill everything' mendiskripsikan milenial sebagai kaum 'pembunuh berdarah dingin'. Mereka membunuh apapun secara cepat.

Pembunuhan ini terjadi karena nilai-nilai dan preferensi milinial yang telah berubah drastis dan perubahan itu menjadikan berbagai produk, layanan, teknologi, musik, olahraga bahkan beberapa pola tingkah laku manusia menjadi tidak relevan lagi dan perlahan punah.

Di tahun 2030 diperkirakan ada sekitar 50 produk, layanan dan jasa bahkan tingkah laku manusia yang hilang dari muka bumi karena millenials disruption ini. Pemain lama hilang berganti dengan pemain baru yang dengan cepat merubah keadaan dan mencengangkan banyak pihak.

Olah raga golf, sepatu high heels, toko-toko retail, departemen store yang bahkan telah lama berdiri, biro perjalanan, satu persatu ambruk diterjang bisnis berbasis online dan data. Milenial kini tak lagi senang berbelanja barang (goods) melainkan lebih menkonsumsi pengalaman (experiences/leisure).


50 list produk, industri, jasa 
yang diprediksi hilang di tahun 2030


Fenomena Gojek, Tokopedia, Traveloka dan lain-lain, menandakan era start up, era unicorn, era revolusi industri 4.0 happening now in Indonesia...zaman telah berubah bro, begitu kira-kira kata anak milenial.




Pada sebuah pernyataannya, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI - Nadiem Makarim mengatakan bahwa kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi. Bahwa kita memasuki era dimana kelulusan tidak menjamin kesiapan bekerja dan berkarya. Kita memasuki era, dimana akreditas tidak menjamin mutu.

Senada dengan pernyataan Pak Menteri di atas, Salva Yurivan Saragih-Trainer muda, dalam ssalah satu vlognya menggambarkan fenomena yang terjadi saat ini persis seperti fenomena VUCA pada perang kabut (fog war) yang dihadapi militer di tahun 90-an. Dimana situasi medan lawan sama sekali tidak terbaca, serasa berjalan dalam kebutaan. Begitu pulalah gambaran yang terjadi hari ini., di era revolusi industri 4.0 ini.

VUCA adalah singkatan dari :
Volatality : kondisi dimana perubahan sangat cepat sekali terjadi.
Uncertainity : kondisi ketidakpastian / tidak ada jaminan.
Complexity : banyak sekalai hal-hal baru yang mempengaruhi kesuksesan hari-hari ini yang tidak terfikirkan pada masa lalu.
Ambiguity : kondisi yang membingungkan.


Berdasarkan paparan tentang apa yang tengah dihadapi, maka mari bersama-sama kita bergerak menyongsong kemajuan Indonesia di masa depan. Indonesia yang maju adalah sebuah resultan upaya dan ikhtiar anak bangsa di segala lini kehidupan. Optimis adalah satu-satunya tiket meraih kejayaan Indonesia di masa depan. Lalu pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mempersiapkan kemajuan Indonesia di era industri 4.0 ini?

Bonus demografi penduduk Indonesia yang mencapai 240 jiwa, sumber daya alam yang masih melimpah serta laju pembangunan infra struktur yang digenjot di 5 tahun pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo, memang menjadi Modal dasar yang patut disyukuri. Namun pembangunan manusia menjadi satu keniscayaan bagi suatu bangsa, karena sejatinya kemajuan suatu negara tidak saja dilihat dari capaian fisik saja tetapi dari sudut manusianya.

Dalam sidang paripurna mengenai ketersediaan anggaran dan pagu indikatif tahun 2020, pada 23 April 2019 silam, di ruang Garuda Istana Kepresidenan di Bogor, Presiden Jokowi menyatakan bahwa prioritas utama kita ke depan adalah pembangunan Sumber Daya Manusia yang terkonsolidasi dengan baik, didukung anggaran yang tepat sasaran sehingga terjadi peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui peta jalan yang jelas, terstrukur dan hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat.

Urgensi pembangunan Sumber Daya Manusia menjadi faktor kunci dalam memenangkan persaingan global di masa depan yang membawa konsekuensi semakin ketatnya persaingan di tengah ketidakpastian. Namun pembangunan Sumber Daya Manusia menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia bila mencermati  data yang dikeluarkan oleh Bank Dunia dimana pada tahun 2018 disebutkan bahwa kualitas SDM Indonesia berada di peringkat ke-87 dari 157 negara.



Sementara itu di tahun 2019 menurut IMD ( Institute for Development ) memaparkan bahwa peringkat daya saing SDM Indonesia berada di rangking 32. Peringkat ini masih tertinggal dari 2 negara tetangga kita yaitu Singapura dan Malaysia yang berada di peringkat 1 dan 22 se-Asia Pasifik.




Oleh karena itu pilihan strategi pembangunan dengan fokus utama pembangunan SDM yang unggul sangat tepat untuk menjawab tantangan bagi Indonesia ke depan.

Menilik peningkatan SDM di Indonesia, sekali lagi salah satu instrumen maha pentingnya adalah melalui pendidikan. Itu sebabnya, banyak orang tua yang mengarahkan pandangan pada sosok pengisi  posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang dilantik pada suksesi beberapa waktu yang lalu.

Penunjukan Nadiem Makarim menarik perhatian banyak kalangan akan keterwakilan kaum milenial yang menguasai teknologi dan data.  Bagaimanapun milenial lah kini sebagai pelaku-pelaku baru perubahan di era revolusi industri 4.0. Dunia pendidikan pun bersiap-siap menyambut segala konsekuensi era ini.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul 'Memuliakan Kehidupan', Mochtar Buchory menyimpulkan ada tiga tujuan dari pendidikan. Pertama, agar peserta didik bisa  menghidupi diri sendiri, kedua agar perserta didik bisa bermanfaat lebih dengan menghidupi orang lain. Ketiga, agar peserta didik bisa memuliakan kehidupan.

Lantas apakah yang kita titipkan pada sistim pendidikan kita untuk pembangunan Sumber Daya Manusia ini?

Menurut Erie Sudewo dalam bukunya 'Best Practice Character Building menuju Indonesia lebih baik',  kualitas manusia ditentukan oleh 2K, yakni Kompetensi dan Karakter. Pembangunan Sumber Manusia unggul hendaknya menyentuh 2 aspek ini. Inilah narasi besar yang dibawa dalam sistim pendidikan dari mulai pendidikan pra sekolah, sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Kompetensi yang berasal dari kata competence (kecakapan) merupakan kemampuan dalam mengemban tugas, menyelesaikan pekerjaan atau menangani persoalan.  Kemampuan artinya 'peningkatan diri' yang masing-masing orang berbeda-beda sesuai fitrah alamiahnya. Di dalamnya ada kapasitas yaitu daya tampung (volume potensi seseorang) dan kapabilitas yang dimaknai sebagai kemampuan mengolah dan mengelola kapasitas.

Mari kita simak bagaimana kompetensi harus dirancang dalam wujud kurikulum pendidikan.

Menurut Aoun (2017), untuk mendapatkan SDM yang kompetitif dalam industri 4.0, maka kurikulum pendidikan harus dirancang agar outputnya mampu menguasai literasi baru yaitu :



1. Literasi data, yaitu kemampuan membaca, menganalisis dan memanfaatkan informasi big data dalam dunia digital.




2. Literasi teknologi yaitu memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi coding, Artificial Intelligences dan engineering principles.




3. Literasi manusia, humanities, komunikasi dan desain.


Namun....kualitas manusia bukan hanya dinilai dari kecerdasan dan keahliannya semata, atau kepakaran, keterampilan dan profesionalitasnya saja. Kompetensi memang menjadi tangga menuju kesuksesan, tapi karakterlah yang menentukan apakah tangga itu bersandar pada tempat yang benar atau tidak.

Bukankah kita tidak ingin melihat SDM Indonesia yang luar biasa unggul dan kompeten beberapa puluh tahun mendatang tapi tak mewujudkan kemakmuran bagi rakyat Indonesia ?. Kompetensi yang dimiliki justru hanya dipakai untuk memperkaya diri sendiri, kelompok, mengambil kekayaan negara (korupsi) dan penyalahgunaan jabatan.

Maka 2 K (kompetensi dan karakter) ini adalah elemen penting dalam pembentukan sumber daya manusia.

Kompetensi memang menjadi tangga menuju kesuksesasan, tapi karakter menentukan apakah tangga itu bersandar pada tempat yang benar atau tidak

Karakter merupakan perilaku baik dalam menjalankan peran dan fungsinya sesuai amanah dan tanggung jawab. Disinilah titik utama mengapa istilah karakter memiliki kekuatan, mengandung daya dan mempunyai kharisma. Hingga ketika  berbicara karakter maka konteksnya selalu mengarah pada sesuatu yang agung.

Berbeda dengan kompetensi yang bisa ditingkatkan dalam jangka waktu tertentu dan terukur, menanamkan karakter bukan seperti perlombaan sprint, melainkan maraton. Butuh waktu yang lama dan pendekatan yang dalam.

Dalam bukunya Best Practice Character Building menuju Indonesia lebih baik,  Arie Sudewo membagi Character yang harus ditata, dirancang dan diarahkan bahkan dari mulai awal kehidupan seorang manusia menjadi 3 bagian besar yaitu :

KARAKTER DASAR
Terdiri atas sifat :
1. Tidak egois
2. Jujur
3. Disiplin


Ketiganya sejatinya adalah karakter dasar yang ditanamkan sejak kecil bahkan sejak anak terlahir ke dunia. Itu sebabnya kami orang tua menaruh harapan pada dunia pendidikan karena pendidikan berbasis karakter ini memang harus dijalankan seiring sejalan seirama antara sekolah dan orang tua, demi mengawal ketiga nilai-nilai baik ini terus terjaga hingga anak dewasa.


Karakter tidak egois menumbuhkan kepedulian sosial, pada manusia dan alam. Jika menjadi pemimpin maka akan menjadi pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karakter tidak egois juga menjadi nafas kolaborasi. Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok lain. Kemampuan ini sangat dibutuhkan di era ini.

Karakter jujur menumbuhkan dedikasi untuk melawan segala ketidakadilan. Benih-benih korupsi sejatinya lahir dari karakter jujur yang tidak termanivestasi dengan baik dalam diri seorang manusia. Jujur adalah salah satu ciri kepemimpinan langit, ciri kepemimpinan Para Nabi yang notabene Pemimpin yang diutus Tuhan kepada semesta.

Karakter disiplin melahirkan tanggung jawab. Konon membangun karakter ini tak cukup 1 dekade tapi sepanjang usia. Disiplin adalah salah satu karakter yang memudahkan kehidupan. Budaya antri, budaya tertib, budaya mengerjakan pekerjaan tepat waktu, budaya efisien, lahir dari karakter disiplin yang sejatinya ditanamkan sejak dini.

Ketiga karakter ini, bila dimiliki seseorang, maka akan cukup membuat seorang anak manusia dikatakan baik. 3 karakter ini adalah modal besar untuk meraih tujuan kehidupan. Namun untuk menjadi manusia unggul, 3 karakter itu saja belum cukup. Arie Sudewo menambah karakter berikutnya sebagai syarat menjadi manusia unggul.

KARAKTER UNGGUL
1. Ikhlas
2. Sabar
3. Syukur
4. Tanggung jawab
5. Berkorban
6. Memperbaiki diri
7. Sungguh-sungguh

Ketujuh sifat ini hendaklah diisntall sedari kecil kedalam fikiran bawah sadar anak, guna mempersiapkan karakter unggul yang sangat berguna di masa depannya.

Lantas untuk mempersiapkan seorang pemimpin yang siap menghadapi tantangan di era yang tidak pasti di masa depan, maka ada 9 sifat lagi yang harus ditambahkan.

Karakter pemimpin
1. Adil
2. Arif bijaksana
3. Ksatria
4. Tawadhu'
5. Sederhana
6. Visioner
7. Solutif
8. Komunikatif
9. Inspiratif.

Formula 3, 7, 9 berupa 3 karakter dasar, 7 karakter unggul, dan 9 karakter pemimpin ini bila diterapkan dan bersanding dengan peningkatan kompetensi maka akan membentuk sumber daya manusia Indonesia yang paripurna yang siap menghadapi tantangan zaman apapun.

Oleh karena itu pembangunan SDM unggul baik kompetensi dan karakternya sungguh menjadi kekuatan besar menuju Indonesia maju di era revolusi industri 4.0

UNGGUL SDMNYA MAJU INDONESIANYA
























Berdialog dengan sejarah melalui kearifan cagar budaya

Dulu waktu masih zaman berseragam putih abu-abu, mata pelajaran sejarah adalah yang paling membosankan. Kadang saya memilih menggambar abstraksi hitam putih dengan pena merk Rotring kesayangan untuk membunuh kantuk dan lelah ketika mata pelajaran itu didelivery di kelas. Sesungguhnya yang menari-nari kala itu adalah kantin sekolah. Kapanlah pelajaran ini berlalu dan saya ingin segera menegak teh manis dingin ibu kantin untuk menginput kesegaran ke dalam otak.

Saya memang selalu antusias menghafalkan sejarah, tapi itu hanya sebatas ingin mendapatkan nilai bagus saja ketika ulangan tiba. Selebihnya, saya menjadi makhluk yang tak begitu peduli dengan membaca sejarah. Satu-satunya yang saya ingat adalah sosok guru sejarah saya kala itu. Saya sayang beliau secara personality, karena beliau sosok yang ramah, baik, beliau juga guru SMP saya dan selalu memberi saya nilai memuaskan. Tapi agaknya itu tak cukup membuat saya menyukai mata pelajaran yang dibawakannya.

Setiap kali mamak mengajak jalan-jalan ke situs budaya yang berbau-bau sejarah untuk menemani saudara yang datang dari luar kota, langkah kaki ini pun berat sekali. Seperti ditimpa batako besar yang sulit digerakkan. Tak ada menariknya buat saya tempat-tempat itu, karena tak menarik akhirnya malas berkunjung dan tak peduli.

Bertahun-tahun kemudian, hampir seperempat abad, sejarah masih menjadi sesuatu yang paling malas dibaca. Apa menariknya ? Seperti tak punya sesuatu yang membuat mata tertuju ke sana, tertindih oleh rutinitas dan kesenangan baru kala itu. Saya lebih tertarik mengutak- atik keyboard komputer dan berselancar dengan MIRC dan menjelajah Yahoo.com.

Internet mulai happening di masa perkuliahan saya dulu, warnet pun menjamur di mana-mana bak cendawan di musim hujan. Pelajaran sejarah telah menjadi situs purbakala di kepala saya. Sudah ditinggalkan.

Waktupun berjalan cepat, yang saya ingat, banyak hal yang mulai berubah ketika saya tamat kuliah, menikah dan dianugerahi Allah seorang anak setelah penantian yang amat sangat panjang. Anak membuat saya jumping 180 °, dalam banyak hal termasuk hobbi dan kesenangan. Passion saya mulai menyesuaikan dengan kebutuhan masa depan anak.

Ketika mulai melek dengan pentingnya membuat kurikulum pengasuhan anak, saya mulai mencari sana-sini apa kira-kira yang dimasukkan dalam kurikulum pengasuhan anak saya di rumah. Meski sekolah punya kurikulum sendiri, tapi sebaiknya anak di rumah jangan dibiarkan kosong melompong tanpa aktivitas dan pendampingan orang tua.

Itulah mengapa kurikulum rumah itu penting menurut saya. Membuat kurikulum rumah, tak usah terlalu ribet seperti merumuskan kurikulum sekolah formal, yang sederhana saja yang kira-kira bisa menjadi pijakan untuk diwujudkan seluruh anggota keluarga di rumah.

Setelah banyak menyimak penuturan guru-guru kehidupan di kelas-kelas parenting, banyak membaca dan mencari tahu, sayapun akhirnya memutuskan memasukkan kurikulum membacakan 'sirah'  atau sejarah dalam pengasuhan anak. Di sinilah titik balik saya fall in love dengan 'sejarah' dan otomatis segala yang terkait dengannya.

Jatuh cinta memang berjuta rasanya, begitu kata Vina Panduinata...ternyata benar juga. Ketika mulai jatuh cinta dengan sejarah, sayapun mulai menularkannya pada anak saya. Mulai dari mana? Saya mulai dari buku. Saya percaya membacakan buku adalah cara hebat memasukkan value ke dalam alam fikiran bawah sadar anak.

Sejarah adalah akumulasi rekaman kehidupan manusia. Mempelajari sejarah berarti mempelajari segala bentuk puncak pengalaman dan perubahan yang dicapai manusia sepanjang abad. Sejarah yang terjadi di masa lampau menjadi pijakan membangun sejarah baru di masa depan.

Lalu apa pentingnya mengajarkan sejarah kepada anak?

Nugent dalam bukunya Creative history (1967) menjelaskan tentang hal itu. Ada 2 manfaat sejarah bagi kita yaitu :

1. How can  history help us making a living
( bagaimana sejarah itu menolong kita untuk hidup)

2. How can history help us become a better person
(Bagaimana sejarah itu dapat menjadikan kita pribadi yang lebih baik)

Menurut Robert Jones Safer (1974)
Sejarah berguna untuk :

1. Memperluas pengalaman manusia.
Belajar sejarah sama artinya dengan berdialog dengan masyarakat dan bangsa manapun di saat kapanpun. Dengan mempelajari sejarah orang mendapatkan pengalaman dalam menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan.

2. Dengan mempelajari sejarah akan memungkinkan seseorang untuk dapat memandang sesuatu secara keseluruhan.

3. Sejarah memiliki peranan penting dalam pembentukan identitas dan kepribadian bangsa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. - Ir. Soekarno-

Al-qur'an sebagai kitab suci umat Islam sendiri, memuat banyak sekali sejarah masa lampau sebagai bahan renungan dan pelajaran. Kisah Luqmanul Hakim - seorang ayah yang mengajarkan kebaikan kepada anaknya, adalah salah satu kisah yang diabadikan di dalam Al-qur'an.

Begitu pula tentang kisah tenggelamnya Firaun di dalam lautan bersama seluruh pasukan-pasukannya. Hegemoni mempertuhankan diri dan kekuasaan runtuh dipertontonkan zaman. Al-qur'an menyampaikan pesan kuat, agar manusia berhati-hati terhadap kesombongan dan hukuman Tuhan. Sebab history can repeats it self. Sejarah bisa berulang kembali. Hal yang terjadi di masa lampau suatu saat akan berulang kembali dengan variasi yang berbeda tapi esensinya sama.

Maka tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum mereka, lalu kami tenggelamkan mereka semua (di laut), dan kami jadikan mereka pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian. -Al-qur'an-

Dimensi sejarah seperti yang difahami orang-orang Romawi tercermin dalam adagium historia vitae magistra yang artinya sejarah adalah guru kehidupan. Sedangkan bagi bangsa Cina  meyakini sejarah adalah cermin kehidupan. Itu sebabnya Raja di setiap dinasti berkewajiban menuliskan sejarah raja dan dinasti yang digantikannya.

Bagi saya kini, mengajarkan sejarah kepada anak, sama artinya mengisi kekosongan identitas sejatinya. Dengan mengetahui sejarah, anak akan mengetahui kesejatian identitas dirinya sebagai bagian dari entitas sebuah bangsa. Banyak sekali hal menarik sesungguhnya yang disuguhkan oleh sejarah kepada generasi muda penerus bangsa ini.

Beberapa buku-buku tentang sejarah manusia pertama di muka bumi yaitu Nabi Adam As, tentang nabi-nabi yang lain, tentang manusia yang dijadikan sebagai tokoh nomer 1 yang berpengaruh di dunia yaitu Nabi Muhammad saw, tentang tempat-tempat bersejarah di dunia, tentang ilmuan-ilmuan yang mengukir sejarah di dunia saya koleksi dan bacakan sesering mungkin kepada anak. Sayapun memburu buku Maps Poster book karya Aleksandra Mizielinska dan Daniel Mizielinski yang tersohor itu untu dipelajari bersama anak. Tak disangka, mengunyah buku sejarah ini ternyata mengasikkan.

Setelah membacakan buku-buku, sayapun kemudian mulai memburu tempat-tempat yang memungkinkan kami berdialog lebih nyata dengan sejarah. Maka, sedari kecil saya sudah hobbi mengajak anak saya berwisata ke situs-situs cagar budaya di kota tempat tinggal saya atau pun kota lain yang kami kunjungi.

Tak ingin mengulang seperti saya yang tak suka sejarah ketika duduk di bangku sekolah dulu, saya kini memilih mengajarkan sejarah dengan cara yang penuh 'rasa' kepada anak. Saya percaya cinta datang tanpa dipaksa begitu pula mencintai sejarah.

Anak yang mindsetnya sudah terbuka sedari kecil untuk belajar dan mencintai sejarah akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang akan mencintai segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah termasuk cagar budaya yang merupakan produk sejarah.
Ia akan merasa memiliki dan menjaga. Begitu kira-kira cara berfikir saya. Jadi proses edukasi untuk menjaga, merawat dan melestarikan cagar budaya sejatinya di bangun di rumah sedari kecil. Maka ini akan efektif.

Bila saja semua orang tua mengajarkan kecintaan terhadap sejarah sejak dini maka akan muncul masyarakat yang menghargai sejarah dan cagar budayanya. Kita akan menyaksikan peradaban modern yang tetap memeluk kearifan situs-situs sejarah bangsanya. Kerja pemerintah untuk mengedukasi akan sangat diringankan bila kesadaran bersama ini terbangun.

Bicara tentang cagar budaya, apasih cagar budaya itu?

Menurut Wikipedia :
Cagar budaya adalah daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan.

Menurut UU no. 11 tahun 2010 :
Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Pada tahun 2019 ada sekitar 1492 cagar budaya yang bergerak maupun tidak yang sudah terdaftar dan teridentifikasi. Masjid Raya Al manshun, Istana Maimun, dan rumah Tjong A fie di Medan adalah salah satunya.

Info dan pengetahuan penting tentang situs cagar budaya di Indonesia silahkan klik Di sini.




Beberapa hari yang lalu kami kembali mengunjungi Istana Maimun yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Luasnya sekitar 2.777 m2 dengan 30 ruangan yang terdapat di dalamnya.

Istana ini dibangun oleh Sultan ke 9 yakni Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, pada tahun 1888 dan diresmikan 3 tahun kemudian tepatnya 18 Mei 1891. Istana yang menghadap ke timur ini, begitu megah dan unik dengan perpaduan arsitekturnya yang menunjukkan keberagaman kehidupan masyarakat Medan, yaitu Melayu, Islam, Eropa, dan India.





Budaya Eropa nampak dari Ornamen lampu, lemari, meja, kursi, jendela hingga pintu dorong. Pintu tersebut bergaya arsitektur spanyol yang berpadu dengan gaya arsitektur Belanda pada bentuknya yang lebar dan tinggi. Hal yang sama juga dijumpai pada jendelanya.










Karakteristik arsitektur Islam nampak pada lengkungan-lengkungan bagian atap. Lenkungan yang nampak seperti perahu terbalik ini seperti lengkungan pada arsitektur Persia atau bangunan Timur Tengah lainnya.




Di hari libur Istana Maimun ini banyak sekali dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Khusus wisatawan mancanegara dipandu oleh tourguide yang menjelaskan dengan detail sejarah Istana Maimun yang melegenda ini.

Tiket untuk masuk ke area Istana Maimun ini hanya Rp. 10.000,- saja per orang. Kami hanya membayar tiket masuk Rp. 20.000,- . Murah bukan?



Selain untuk sekedar melihat-lihat, tempat ini juga digunakan sebagai sarana belajar. Beberapa mahasiswi dari universitas yang saya kenal, agaknya sedang melakukan wawancara kepada pengunjung untuk melengkapi tugas perkuliahannya.

Saya sendiri menjadikan kunjungan kali ini sekalian menekankan pentingnya pemahaman mengidentifikasi benda-benda. Saya membuat tugas agar anak mengidentifikasi benda apa saja yang iya temukan di sini, seru ya, jadi cagar budaya itu sebagai sarana belajar banyak hal.



Di dalam Istana juga tersedia outlet yang menyediakan souvenir khas Medan dan pakaian adat melayu yang bisa disewa oleh pengunjung dengan harga RP. 20.000,- saja. Pengunjung pun gembira ber swa foto menggunakan pakaian tradisional ini.







Beberapa inventaris kerajaan di sini tidak boleh diduduki ya, di sana tertulis tegas aturannya. Ini untuk menjaga agar tidak rusak mengingat usia perabot-perabot ini  sudah tua sekali, jadi rawan rusak bila tidak dijaga dan dirawat. Nah penting sekali memiliki kesadaran bersama menjaga supaya barang-barang dan situs peninggalan sejarah ini tetap lestari.


Melalui wisata ke cagar budaya ini juga menjadi kesempatan bagi saya mengenalkan pakaian adat Melayu dan budaya suku Melayu. Juga kerajaan Deli yang dulu pernah berkuasa sebelum Indonesia merdeka. Nah menariknya di sana terpajang juga foto Sultan deli terakhir loh, beliau sekarang berusia 21 tahun dan sedang menyelesaikan studinya di Universitas Diponegoro Malang.


Semoga, cagar budaya yang ada di kota Medan khususnya dan Indonesia umumnya tetap terawat dan terjaga ya...itu harapan saya sebagai orang tua yang menjadikan situs-situs bersejarah ini tak hanya sebagai alternatif jalan-jalan semata tapi menjadikannya sebagai media belajar dan berdialog dengan sejarah.

Yuk tulis pengalaman dan opini kamu tentang cagar budaya melalui kompetisi blog yang diadakan oleh Kemendikbud x IIDN









Berkunjung ke Samosir - Pulau Kepingan Surga

Saya masih mengingat jelas kepingan masa kecil saya bersama keluarga hingga kini. Salah satunya momen ketika ayah saya memboyong kami anak-anaknya ikut serta ketika beliau bertugas ke luar kota. Ntah kenapa berlibur dan menginap di hotel itu menjadi salah satu kenangan yang indah tak terlupakan.

Saya juga masih menyimpan kenangan bagaimana ayah saya sering membawa kami berwisata kuliner sekeluarga setiap kali malam minggu tiba. Kala itu Bakso Amat di Medan menjadi tempat favorit kami. Rasanya malam terpanjang adalah malam ketika ayah dan mamak mengajak kami berjalan-jalan menikmati jajanan malam kota Medan kala itu.

Saya juga masih merasakan binar mata kami setiap kali diajak pulang kampung mengunjungi Opung di Bosar Maligas - Simalungun. Tentu saja yang kami kejar adalah mandi di sungai yang mengaliri kampung tempat ayah dilahirkan itu.
Kampung halaman ayah serasa surga. Padahal sungainya tak lah berair bening apalagi elok, biasa saja sebenarnya. Tapi kami kerap merasa bebas merdeka, bebas menghitamkan diri terpanggang mentari terik siang hingga sore hari tiba tanpa teriakan mamak dan ayah yang mengkhawatirkan kami.

Hingga kinipun, nostalgia masa kecil itu selalu manari-nari dan memantik bahagia. Apakah gerangan sebabnya?

Di Inggris ternyata  terdapat sebuah lembaga Nasional yang membantu keluarga prasejahtera untuk pergi liburan. Lembaga tersebut bernama Family Holiday Association. Lembaga ini kemudian melakukan studi pada tahun 2010 yang memberi pencerahan pada manfaat jangka panjang dari liburan keluarga.

Hasilnya, 49 % kenangan paling bahagia dari orang-orang Inggris yang mereka survey adalah kenangan liburan bersama keluarga. 1/3 dari para objek yang disurvey mengatakan bahwa mereka masih mengingat jelas kenangan liburan keluarga yang mereka alami saat masih kecil.

Yang lebih menarik 1/ 4 dari mereka mengaku menggunakan memori tersebut untuk membantu dirinya melewati masa-masa paling berat dalam hidupnya.

John McDonald - Direktur Family Holiday Association berkata : 'kami menganggapnya sebagai jangkar kebahagiaan'

Wah...luar biasa bukan manfaat liburan bersama keluarga di masa kecil? Ternyata kenangan indah liburan bersama keluarga di masa kecil itu bisa menjadi jangkar pemantik perasaan bahagia di masa dewasa, bahkan berguna tatkala melewati masa-masa sulit dalam kehidupan seorang anak.

Itulah sebabnya, saya dan suami sepakat tak ingin pelit dalam hal berlibur. Menurut saya perjalanan bersama keluarga itu tak melulu menghabiskan uang, tapi sebaliknya mengayakan dan bernilai investasi jangka panjang. Kekayaan itu tak mesti bertambahnya pundi-pundi uang bukan? Hati yang bahagia adalah kekayaan yang luar biasa harus disyukuri.

Nah...selagi anak masih kecil, saatnya menciptakan jangkar-jangkar kebahagiaan. Ini juga investasi jangka panjang, investasi memori yang sangat dibutuhkan di masa depan anak.

Banyak yang tidak tahu bahwa liburan juga bermanfaat bagi perkembangan otak anak. -Dr. Margot Sunderland-

Bicara tentang liburan, rasanya seru sekali bila dilakukan bareng-bareng dengan anggota keluarga. Siapa sih yang nggak suka? Apalagi liburannya ditemani voucher diskon 70 % menginap di hotel yang dipersembahkan OYO INDONESIA, liburan pasti akan semakin nyaman di hati dan kantong.

Nah, akhir tahun 2018 yang lalu tepatnya ketika liburan natal tiba, saya dan keluarga melakukan trip menyenangkan. Kami 10 orang dewasa dan 7 anak-anak berkonvoi dengan 3 mobil. Sebenarnya ini perjalanan yang tidak direncanakan jauh-jauh hari, mengingat biasanya kalau direncanakan malah tidak jadi. Alhamdulillahnya pada saat itu segalanya dimudahkan.

Lalu itinarary pun disiapkan. Perjalanan kali ini menuju Pulau kepingan surga -Samosir, kami memutuskan melalui jalan berkelok Tele. Ini sungguh perjalanan yang saya impikan sejak lama. Sepanjang hidup saya melewati jalan yang lebih familiar bila ingin berlibur ke Samosir. Yaitu melalui kota Parapat lalu menyeberang dengan menggunakan ferry menuju pulau yang dikelilingi danau gigantic itu. Nah kali ini kami akan menuju Samosir melalui jalan darat satu-satunya yaitu melewati jalur Tele.

Perjalanan kami awali selepas maghrib, menuju destinasi pertama pemandian air panas Pariban. Pemandian air panas Pariban ini terletak di penghujung desa Debuk-Debuk, kurang lebih menempuh 2 jam perjalanan dari kota Medan.

Pemandian Pariban, termasuk salah satu lokasi pemandian air panas yang sangat diminati dan diserbu pengunjung terutama di hari libur. Area pemandian Pariban relatif besar dan nyaman, serta bersih. Fasilitasnya pun lumayan lengkap. Dilengkapi parkiran yang luas, musholah, cafetaria, ruang pertemuan, kamar mandi yang jumlahnya lumayan banyak dan bersih, waterboom, kolam-kolam air panas yang bervariasi suhunya, taman bunga, kolam ikan, taman kelinci, permainan sepeda air dan toko souvenir.

Sesekali berkunjunglah di malam hari untuk menikmati sensasi mandi air panas bermandikan rembulan dan udara Debuk-Debuk yang dingin....berrrrr... Ternyata tak kalah ramai juga pengunjung yang datang di malam hari. Semakin larut malah semakin bertambah padat aliran pengunjung.

Malam di Pariban, terasa eksotis dengan lampu-lampu indah yang banyak dipasang di sana. Bila membawa anak ataupun orang tua di malam hari, sebaiknya prepare dengan baik pakaian penghalau dingin ya. Seperti jaket, kaus kaki tebal, topi, dan selimut. Sebab semakin malam udara pun semakin dingin.

Puas berendam dan bersantap malam di Pariban, kami pun melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya. Malam ini kami akan beristirahat di Berastagi Cottage yang terletak di daerah Gundaling - Berastagi yang berjarak sekitar 12 km saja dari Pariban. Kamipun menebas malam untuk segera sampai beristirahat.






Agaknya malam itu malam panjang, sebab mata bocah-bocah petualang seperti tak kunjung redup. Kalau sudah kumpul bersama sepupu-sepupu, biasanya anak-anak ini tak akan mau buru-buru tidur. Hahaha...

Akhirnya sampai juga di Berastagi Cottage - Gundaling. Villa keluarga yang kami pesan terdiri dari 2 kamar yang dihubungkan oleh conecting door, berkarpet tebal dan lumayan besar, cukup menampung beberapa keluarga, dan hanya dibandrol 500 ribu saja per kamar, hemat bukan?

Pagi harinya kami menyempatkan berjalan-jalan menyusuri area cottage yang sangat luas. Pemandangan berlatar Gunung Sinabung yang kokoh, keren sekali menjadi latar berswa family foto. Anak-anak kami biarkan berlarian ke sana ke mari, main bola, main ayunan dan menjajal sensasi masuk ke dalam rumput labirin di depan cottage. Anak-anak serasa menemukan rumah sejatinya, lapangan hijau nan luas tempat mereka bebas main, melompat,  berlarian dan berteriak melepas segala energi yang seperti tak ada habis-habisnya.





Selesai sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Pulau Kepingan surga - Samosir, melalui Tele. Jangan lupa siapkan  amunisi cemilan yang banyak buat menemani para krucil sepanjang perjalanan.

Panorama sepanjang mata memandang, sungguh membuat penat-penat hilang. Kami dimanjakan oleh hamparan hijau demi hijau pepohonan besar nan sejuk yang sayang dilewatkan. Rute alternatif menuju Pulau Samosir ini relatif sepi dan berkelok-kelok seperti tak berujung. Beberapa titik rawan longsor biasanya menjadi kewaspadaan bagi pengemudi kendaraan. Tak terasa 4 jam sudah kami menyusuri kelokan-kelokan jalan itu, perutpun sudah mulai keroncongan. Kami memutuskan berhenti di Rumah Makan Muslim yang kami temui di daerah Sidikalang.

Anak-anak tetaplah anak-anak. Di manapun mereka berada jiwa petualang mereka tetap muncul. Kami membiarkan saja mereka mengeksplorasi alam, kapan lagi mereka bermain bebas menapaki perbukitan yang sungguh jarang sekali ditemui di Medan.





Anak-anak sudah lebih ceria sekarang. Perut kenyang hati pun riang. Sepanjang perjalanan Berastagi - Sidikalang, mereka tak henti bercerita, bercanda dan bernyanyi-nyanyi, tak ada kata lelah bagi mereka, selagi malam belum tiba.

Konvoi mobil kami, kembali berada di atas aspal berkelok menuju Menara Pandang Tele. Meski hampir 5 jam perjalanan tapi rasanya puas menyaksikan panorama lukisan Ilahi yang maha indah. Sepanjang perjalanan pemandangan eksotis dan megah Danau Toba tak jemu untuk diabadikan.

Selamat Datang di Pulau Kepingan Surga. Begitu kira-kira bunyi salah satu spanduk yang terbaca saya. Artinya perjalanan kami telah melewati Dairi-Sidikalang dan kini memasuki wilayah Kabupaten Samosir. Tak lama sampai lah kami di Menara Pandang Tele.

Menara Pandang Tele ini berada tepat di Jalan Tele, kelurahan Lumban Punggol, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.
Menara ini dibangun ketika Samosir masih menjadi bagian dari pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara pada tahun 1988 silam.

Dimekarkannya Tapanuli Utara menjadi Kabupaten Tobasa dan Samosir, otomatis membuat Tele masuk dalam wilayah Kabupaten Samosir. Penyediaan fasilitas sekaligus pengembangan Tele baru dimulai pada tahun 2018 lalu, ketika Danau Toba dan 'negeri indah kepingan surga' menjadi bagian dari skala prioritas pariwisata nasional.

Menara Pandang Tele adalah tempat tertinggi untuk menikmati keindahan Danau toba dan sekitarnya yang sangat memanjakan mata. Bila ingin menikmati pemandangan kaldera Toba, tak lengkap rasanya bila belum mampir ke sini.

Tiket menaiki menara 3 tingkat itu, hanya Rp. 5000,- saja per orang, relatif murah bukan? Dari puncak menara dapat terlihat megahnya Gunung Pusuk Buhit, dan hamparan sawah yang hijau. Kita juga bisa melihat gambaran air terjun yang mengalir dibalik perbukitan Danau Toba. Sayang sekali rasanya bila tidak mengabadikan momen indah di Menara Pandang Tele ini.



Sumber : www.google.com




Kini di lokasi ini telah dibangun rest area berdinding kaca yang semakin memanjakan para traveler untuk bersantai, sekedar menikmati minuman hangat dan pemandangan yang luar biasa indahnya.

Siang menjelang Sore di Tele benar-benar tak terlupa, inginnya sih berlama-lama menghabiskan waktu sampai sunset tiba. Tapi para driver yang tak lain suami-suami kami, agaknya telah lelah dan butuh memejamkan mata. Kami pun melanjutkan perjalanan selanjutnya. Tujuan kami adalah lokasi wisata pasir putih Parbaba. Kami akan menginap di Hotel Raja, sekitar setengah jam saja dari Pangururan.

Hotel kecil ini menjadi rekomendasi suami. Tarifnya tidak terlalu mahal sekitar 300 - 350 ribu per kamar . View pasir putih Parbaba dan Danau Toba langsung bisa dinikmati dari depan Hotel Raja. Lepas makan malam, para ayah melepas lelah degan pesta makan Durian. Hmmm...saya memilih tak bergabung, walaupun pesta itu menggoda, mata yang mengantuk ini agaknya perlu dipenuhi haknya.

Keesokan paginya, anak-anak tak sabar menceburkan diri di Danau Toba yang tenang di depan Hotel. Pemandangan pagi terasa syahdu sekali. Agak siang sedikit, tempat ini mulai ramai dengan para pedagang yang mulai membuka lapak-lapak dagangan mereka. Di sini tersedia tikar, ban, banana boat, speed boat, sepedah air, dan beberapa tempat berswa foto. Banana boat dibandrol 250 ribu per setengah jam yang bisa dinaiki 8 orang. Speed boat dibandrol 250 ribu juga untuk jarak tempuh sekitar 12 km mengitari Danau Toba. Untuk menaiki sepeda air cukup merogeh kocek 50 ribu saja, ban untuk berenang-renang di tepian danau cukup disewa dengan harga 10 ribu saja. 







Kawasan wisata ini, sebenarnya menjanjikan dan menyenangkan, hanya saja ada beberapa catatan saya. 
Pertama masalah sampah yang masih belum terkelola dengan baik, sampah berserakan di sepanjang pantai, hiks...sampah plastik terutama, semoga ini menjadi perhatian pihak-plihak yang berkepentingan di sana, karena sangat tidak nyaman sekali bagi wisatawan lokal seperti kami. Kemudian yang kedua banyaknya kotoran hewan yang kami temui di depan hotel, ini juga terasa mengganggu, dan yang ketiga semoga ketersediaan halal food semakin banyak di sana, mengingat kala perjalanan kemarin agak susah kami mencari sarapan pagi dengan menu halal. 

Selebihnya banyak sekali yang bisa digali dan dieksplorasi dari Pulau kepingan surga ini. Salah satu yang memesona anak-anak kami adalah bangunan rumah adat yang dilestarikan. Banyak lah pertanyaan anak-anak tentang rumah unik suku Batak yang satu ini, yang baru pertama kali mereka lihat. Ini menjadi sarana memperkenalkan budaya dan kearifan lokal di tanah Samosir ini kapada anak-anak. 

Anak-anak juga belajar survive ketika keadaan tak sesuai bayangan. Ini salah sat poin juga yang diajarkan dalam sebuah liburan keluarga. Misalnya ketika sarapan pagi harus berbagi karena kami kehabisan nasi gurih karena stok di penjual muslimnya terbatas. Mereka syukurnya happy dan tidak banyak tuntutan. Bersama sepupu-sepupu itu agaknya bahagia tak terkira-kira.




Rasanya tak cukup 1 hari saja kawan untuk mengeksplorasi Samosir, masih banyak destinasi budaya dan sejarah yang ingin sekali saya perkenalkan kepada anak. Seperti melihat makam Raja Sidabutar, Batu Parsidangan, Museum Hutabolon, menonton pertunjukan Sigale-gale di Tomok, dan melihat pengrajin ulos memainkan jemarinya menciptakan karya Ulos yang indah. 

Destinasi alamnya pun tak kalah luar biasa, saya masih penasaran dengan bukit Teletubbies, dan beberapa lokasi menarik lainnya. Sayang perjalanan kami dibatasi jatah cuti para ayah..hehehe...

Perjalanan mengeksplorasi Samosir - Pulau kepingan surga ini agaknya harus sampai di sini saja. Kami harus segera beranjak pulang. 

Setelah diskusi rute perjalanan mana yang akan kami tempuh untuk kembali ke Medan. Akhirnya kami memutuskan melewati Tigaras. Karena itu kami akan menyeberang terlebih dahulu dari Pelabuhan Simanindo ke Pelabuhan Tigaras.

Mendengar penyeberangan dari Simanindo ke Tigaras, agak membuat jantung berdetak lebih kencang. Masih terbayang kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun beberapa waktu yang lalu yang menewaskan banyak sekali penumpangnya. Ah...rasa ini berbanding terbalik dengan anak-anak kami. Mereka sangat antusias sekali. Lihatlah wajah wajah ceria mereka memakai pelampung orange selama penyeberangan.







Kami kini telah memasuki wilayah Kabupaten Simalungun. Tigaras masuk dalam wilayah Kabupaten Simalungun, sementara pelabuhan Simanindo masih masuk dalam wilayah Kabupaten Samosir. Dari sini kita juga masih disuguhkan pemandangan berlatar belakang Danau Toba yang menyihir, salah satunya naiklah sedikit ke tempat wisata favorit anak milenial Bukit Simarjarunjung, yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Pelabuhan Tigaras. 

Bukit Simarjarunjung memanjakan para pemburu spot-spot Instagrameble berlatar bebukitan hijau dan birunya Danau Toba. Siap-siap merogeh kocek agak dalam ya guys, karena tiap spot berbayar per orang sekitar 5 ribu - 10 ribu rupiah, bayangkan kalau fotonya ingin barengan sekeluarga seperti kami. Lumayanlah ya....tapi foto-foto epicnya memang luar biasa indah.






Perjalanan terakhir sebelum pulang ke Medan adalah mampir sekejap di Siantar Zoo. Kami sampai di sana di penghujung sore, beberapa saat lagi mungkin kebun binatang ini akan segera tutup. Anak-anak meski sudah beberapa kali ke sini tetap saja antusias. Kunjungan ke Siantar Zoo ini adalah penutup yang manis perjalanan panjang kami. Alhamdulillah meski melelahkan, rasanya puas melihat anak-anak bahagia menikmati tiap destinasi yang kami kunjungi.






Beberapa tips liburan bersama keluarga anti galau dan ramah kantong ala saya :

1. Siapkan budget kalau bisa jauh-jauh hari. Usahakan tidak mengganggu pos keuangan yang lain.

2. Sesuaikan tujuan liburan dengan budget yang tersedia. Liburan yang penting 'rasa' dan kebersamaannya kok. Kadang bila tak punya cadangan dana lebih, kami pun memilih berlibur ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh bahkan di dalam kota Medan saja. Kebetulan saya pun suka menikmati edutrip ke lokasi-lokasi cagar budaya di dalam kota. 

3. Buat itinarary yang detail, ini sangat membantu sekali kelancaran perjalanan liburan anda.

4. Sebaiknya menghindari perjalanan bersama keluarga di puncak-puncak masa liburan. Biasanya di mana-mana bakalan ramai sekali, tarif penginapan pun melonjak berkali lipat, kadang jalanan juga macet membuat perjalanan kita bertambah lama.

5. Jangan lupa stok jajanan untuk anak-anak yang banyak, dan makanan yang tahan lama untuk menemani bersantap bersama keluarga. 

6. Periksa kesiapan kendaraan sebelum melakukan perjalanan. Ini penting sekali guys.

7. Prepare perlengkapan pakaian untuk mengatasi cuaca dingin bila bepergian ke daerah dingin dan pakaian renang anak-anak.

8. Yang tak kalah pentingnya, booking hotel terlebih dahulu, biar lebih tenang, nyaman dan pasti. Bisa memanfaatkan relasi atau kenalan yang punya akses ke hotel yang kita tuju. Bila tidak ada kenalan jangan khawatir, sekarang sudah tersedia aplikasi yang memudahkan kita memesan kamar hotel di tempat liburan yang ingin kita tuju bersama keluarga.

Tinggal download aplikasi OYO INDONESIA saja, lalu kenyamanan kamar anda yang terjangkau dan ramah kantong berada di ujung jemari. Tak perlu sampai merasakan kehabisan kamar menginap ketika liburan tiba, kita tinggal memesan hotel mana yang kita tuju dengan mengklik kota atau daerah mana tujuan wisata kita yang sudah terdata dalam aplikasi.

Bila tujuan kita ke Samosir misalnya maka tinggal klik Hotel di Samosir saja, dan segera booking berapa kamar yang kita inginkan, lalu lakukan pembayaran. Simpel kan...liburan sekarang memang nggak pakai ribet. 



Nah....liburan sudah semakin dekat nih, sudah merencanakan mau pergi ke mana?
Jangan lewatkan serunya liburan tanpa ribet dan ramah kantong bersama  OYO INDONESIA


Liburan yuuuk....biar awet muda.




Tulisan ini diikutsertakan dalam blog competition yang diadakan oleh  OYO INDONESIA